Sukmiati Nurul Islamiah WordPress.com site

MARHABAN YA RAMADHAN…..

Alhamdulillaahi robbil ‘alamiin… Puji syukur kehadirat Alloh swt yang telah memberi kita kesempatan menuju gerbang bulan suci Ramadhan setelah sebelumnya kita melewati berbagai bulan, tiga diantaranya merupakan asyhurul harom, yakni bulan Muharam, Rajab dan Sya’ban. Dan kini asyhurul harom keempat, bulan suci Ramadhan sudah di depan mata. Sudah sepatutnya kita bergembira, bersuka cita untuk menyambutnya dan semoga kita diberi keikhlasan dan kekuatan menjalankan kewajiban puasa Ramadhan hingga ke penghujungnya. Alloh swt berfirman (yang artinya wallohu a’lam):”Katakanlah (wahai Muhammad) dengan datangnya anugerah Alloh dan rahmatNYa, maka dengan itu hendaknya mereka bergembira” (QS. Yunus:58) Rosululloh saw bersabda (yang artinya wallohu a’lam): “Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Alloh mengharamkan jasadnya (orang yang bergembira tersebut) ke dalam neraka.”
Beliau saw juga bersabda (yang artinya wallohu a’lam):”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan menjaganya dengan segenap kemampuannya, maka diampunilah seluruh dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhori-Muslim)

Bulan Ramadhan juga adalah bulan yang penuh berkah dan maghfiroh, didalamnya terdapat satu malam yang lebih mulia dan utama daripada seribu bulan, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan dilimpahkannya rizki bagi orang-orang yang beriman. Diriwayatkan oleh Salman bahwa Rosululloh saw menyampaikan ceramahnya kepada kami dihari terakhir bulan sya’ban: “Wahai para manusia sekalian, telah menyelimuti kalian bulan agung yang penuh keberkahan, bulan yang padanya suatu malam yang lebih mulia dari seribu bulan, Alloh menjadikan puasa dibulan ini merupakan hal yang fardhu (wajib), dan menjadikan qiyam (tarawih) merupakan hal yang sunnah, barangsiapa yang beribadah dengan satu macam kebaikan maka sama saja pahalanya dengan menjalankan ibadah yang fardhu, barangsiapa yang beribadah dengan hal yang fardhu, maka seakan-akan ia telah mengerjakan 70x hal fardhu tersebut. Inilah (Ramadhan) merupakan bulan kesabaran dan balasan atas kesabaran adalah surga. Inilah bulan kita saling membantu satu sama lain. Inilah bulan dimana Alloh melimpahkan rizkiNYa bagi orang mukmin.” (HR Imam Ibn Khuzaimah dalam shahihnya).
Bersabda Nabi saw (yang artinya wallohu a’lam):”Tatkala tiba malam pertama bulan Ramadhan, Alloh swt berfirman:”Siapa yang mencintaiku, maka aku mencintainya, siapa yang mencariku, maka aku mencarinya dan siap

a yang memohon ampunanku, maka aku mengampuninya karena kemuliaan bulan Ramadhan”. Kemudian Alloh memerintahkan malaikat kiromal katibin pada bulan Ramadhan untuk menuliskan kebaikan-kebaikan mereka (orang yang mencintai, mencari dan memohon ampunan Alloh) dan tidak menuliskan keburukan-keburukannya. Dan Alloh ta’ala menghapus semua dosa-dosa mereka yang telah lalu.”

Diriwayatkan bahwasannya suhuf Nabi Ibrohim as diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat pada malam keenam Ramadhan, 700 tahun setelah diturunkannya suhuf Nabi Ibrohim as, Zabur diturunkan pada malam ke dua belas bulan Ramadhan, 500 tahun setelah diturunkannya Taurat, dan Injil diturunkan pada malam ke delapan belas Ramadhan, 1200 tahun setelah diturunkannya Zabur. Sementara Al Qur’an diturunkan pada malam 17 Ramadhan, 620 tahun setelah diturunkannya Injil. Maka dari itu, setiap tanggal 17 Ramadhan disebut dan diperingati malam nuzulul Qur’an, yakni malam diturunkannya Al Qur’an.
Dari Ibn Abbas rodliyallohu anhuma bahwasannya beliau berkata: “Aku mendengar Rosululloh saw bersabda: ((Seandainya umatku mengetahui keutamaan-keutamaan yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan bahwasannya seluruh tahun itu hanyalah bulan Ramadhan saja)). Karena sesungguhnya kebaikan pada bulan Ramadhan dikumpulkan, ketaatan diterima, do’a-do’a dikabulkan, dosa-dosa diampuni dan surga merindukan mereka (umat Muhammad saw).”
Dari Hafsh al Kabir bahwasannya beliau berkata: “Berkata Dawud Ath-Thoiy: “Aku tertidur pada malam pertama bulan Ramadhan, kemudian aku bermimpi melihat surga, seakan-akan aku duduk di pinggir sungai yang terbuat dari permata dan yaqut. Tiba-tiba aku melihat perempuan-perempuan surga seakan-akan matahari, wajahnya berseri nam bercahaya. Aku berkata: “Laa ilaaha illallooh muhammadun rosululloh”, kemudian mereka berkata: “laa ilaaha illalloh muhammadun rosululloh, kami diperuntukan mereka yang memuji Alloh, mereka yang berpuasa, mereka yang ruku’ dan bersujud pada bulan Ramadhan.” Oleh sebab itulah Nabi saw bersabda (yang artinya wallohu a’lam):”Surga itu merindukan empat golongan: 1. orang-orang yang senantiasa membaca Al Qur’an, 2. orang-orang yang senantiasa menjaga lisan, 3. orang-orang yang senantiasa memberi makan kepada yang kelaparan dan 4. orang-orang yang senantiasa berpuasa pada bulan Ramadhan”
Tentu saja kita kaum muslimin walmuslimat menghendaki dirindukan oleh surga, karenanya dalam bulan Ramadhan ini, kita dituntut tidak hanya berpuasa, tapi juga menjalankan ibadah-ibadah sunnah lainnya, seperti memperbanyak qiyamul lalil, tadarus Al Qur’an, sedekah dan silaturahmi. Selain itu, memperbanyak taubat dan mengkodlo sholat fardhu yang telah ditinggalkan ketika sebelum tibanya Ramadhan. Dihikayatkan ada seorang laki-laki bernama Muhammad (bukan kanjeng nabi saw) sepanjang hidupnya tak pernah sholat sama sekali. Ketika Ramadhan tiba, dia menghias dirinya dengan pakaian yang bagus dan wangi serta mengerjakan sholat dan mengkodlo setiap sholat yang telah ditinggalkannya. Maka ditanyalah dia: “Kenapa kau mengerjakan itu semua?” Jawabnya:”Ini adalah bulan taubat, rohmat dan berkah. Semoga saja Alloh mengampuniku atas karuniaNYa.” Tak lama kemudian, laki-laki tersebut meninggal dunia dan terimpikan pada suatu malam bahwasannya dia ditanya:”Apa yang Alloh kerjakan padamu?” Diapun menjawab:”Alloh telah mengampuniku karena memuliakan pengagunganku terhadap bulan Ramadhan.”
Nabi sawa bersabda (yang artinya wallohu a’lam): “Barangsiapa yang mendirikan Ramadhan (mengerjakan sholat malam) dengan iman dan ikhlas karena Alloh maka diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR.Bukhori). Maka dari itu, seyogyanyalah kita mengisi malam-malam Ramadhan itu dengan berbagai macam ibadah, seperti sholat tarawih baik secara munfarid maupun berjama’ah (namun akan lebih baik apabila berjama’ah), karena selain memang dianjurkan, tarawih juga mengandung banyak keutamaan, yang insya alloh mengenai keutamaan-keutamaan shalat tarawìh ini akan dipostkan pada postingan berikutnya.

Hal yang tidak kalah penting juga bagi kita dalam rangka mengisi bulan Ramadhan ini adalah mendengarkan nasihat-nasihat agama. Dengan sering mengunjungi majelis ilmu, terlebih pada bulan Ramadhan, maka Alloh akan melipatgandakan pahala dari tiap langkah kita seperti pahala beribadah satu tahun, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra bahwasannya Nabi saw bersabda (yang artinya wallohu a’lam): “Barangsiapa yang hadir ke majelis ilmu pada bulan Ramadhan maka Alloh ta’ala menuliskan baginya dari setiap langkahnya ibadah satu tahun dan kelak akan bersamaku (Nabi) dibawah naungan arasy, dan barangsiapa yang mendawamkan sholat berjama’ah pada bulan Ramadhan maka Alloh ta’ala akan memberinya dari setiap roka’at kota yang dipenuhi oleh kenikmatan Alloh ta’ala, dan barangsiapa yang berbuat baik kepada orangtuanya pada bulan Ramadhan, maka dia akan melihat Alloh ta’ala disertai rahmatNya, dan aku yang menjadi pe
nanggung jawab di surga, dan tidaklah perempuan yang mencari ridlo suaminya pada bulan Ramadhan, melainkan baginya pahala Siti Mariyam dan Siti Asiyah dan barang siapa yang memenuhi hajat saudaranya yang muslim pada bulan Ramadhan, maka Alloh memenuhi seribu yang menjadi hajatnya (orang yang memenuhi hajat saudaranya) kelak di yaumil kiyamah.”
Dari Abu Huroiroh ra bahwasannya Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang memasang lampu (menerangi) di masjid dari masjid-masjidnya Alloh ta’ala pada bulan Ramadhan, maka adalah baginya cahaya pada kuburnya dan dituliskan baginya pahala orang-orang yang sholat di masjid tersebut dan memohonkan ampunan baginya segenap malaikat, memohonkan ampunan pula baginya segenap malaikat hamalatul arsy selama lampu-lampu (penerangan) tersebut ada di masjid.”

Sedekah di bulan Ramadhan yang paling mudah dan juga besar pahalanya adalah menjamu orang lain berbuka puasa, sebagaimana sabda Rosul saw (yang artinya wallohu a’lam): “Barangsiapa yang menyediakan buka puasa bagi yang berpuasa di bulan Ramadhan, maka diampuni seluruh dosanya dan kebebasan baginya dari api neraka dan ia mendapatkan pahala puasa tersebut.”(HR Ibn Khuzaimah dalam shahihnya).
“Barangsiapa yang menyediakan buka puasa bagi orang yang berpuasa Ramadhan dengan makanan dan minuman yang halal, maka akan bersholawatlah para malaikat baginya sepanjang waktu Ramadhan dan akan bersholawatlah padanya malaikat Jibril dimalam lailatul qodar.” (HR Imam Thobroni).

Demikianlah sekelumit kecil keutamaan-keutamaan bulan suci Ramadhan yang mana semoga saja kita dapat meraihnya. Untuk itu, demi meraih kurnia dan rahmat Alloh melalui kemuliaan bulan Ramadhan, sudah sepatutnya kita juga menjaga diri dari hal-hal yang dapat menghalangi kita dari kemuliaan Ramadhan tersebut, diantaranya (seperti yang diwasiatkan al habib Umar bin Hafiz):
- Menjaga lidah
kita dari
berdusta dan
menjaga pula
perbuatan kita
dari kedustaan
dan penipuan,
ucapan-ucapan buruk dan
perbuatan
buruk
- Menjaga dari
buka puasa
dengan
makanan
haram dan
syubhat
- Menjaga diri
dari perbuatan
yang
menjatuhkan
pahala puasa
seperti
memandang
aurat yang
bukan
muhrimnya
- Menjaga diri
dari berdusta
dan
membicarakan
aib orang lain
- Menjaga diri
dari
memutuskan
hubungan
silaturahmi
- Menjaga diri
dari minum
arak, ganja dan
narkotika
- Menjaga dari
dengki dan
kebencian
terhadap
sesama muslimin dan dari
berbuat
durhaka pada
keaua orang
tua.

Dan kita juga harus berhati-hati dari berbuka puasa tanpa sebab yang jelas, sabda Rosul saw (yang artinya wallohu a’lam): “Barangsiapa yang berbuka dihari Ramadhan tanpa sebab sakit, atau safar atau udzur syar’i lainnya, maka tiadalah ia akan bìsa membayarnya walaupun ia berpuasa sepanjang masa.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibn Maajah, Ibn Khuzaimah dan Imam Baihaqiy). Sebab itu, kita mesti berhati-hati dalam menjaga puasa, terutama ketika menjelang berbuka. Janganlah kita berbuka sebelum yakin akan telah tiba waktunya, karena sunnah untuk bersegera dalam buka puasa adalah setelah yakin sepenuhnya telah masuk waktu berbuka puasa.

Semoga Alloh swt membimbing kita dalam mengisi bulan suci Ramadhan ini.

Wallohu a’lam.

Sudah bukan rahasia umum lagi bagi kita, terutama para sesepuh ada beberapa malam yang sangat utama dan diistemawakan dari malam-malam lainnya pada bulan Islam, yakni malam lailatul qodar, malam nishfu sya’ban, malam idul fitri dan malam idul adha. Berkenaan dengan malam nishfu sya’ban, Kanjeng Nabi Muhammad saw bersabda (yang artinya wallohu a’lam):”Unggulnya bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan yang lain adalah seperti unggulnya aku dibanding nabi-nabi yang lain.” dan “Tiada lagi malam yang paling utama setelah lailatul qodar selain malam nishfu Sya’ban.”

Malam nishfu sya’ban atau malam pertengahan bulan Sya’ban (malam tanggal 15 Sya’ban) disebut-sebut sebagai malam pergantian buku amal, karena pada malam tersebut semua amal kita diangkat ke langit dan buku catatan amal kita diganti dengan yang baru, sebagaimana sabda Rasul saw (yang artinya wallohu a’lam):”Alloh swt mengangkat semua amal para hambaNYa pada bulan ini (maksudnya Sya’ban)”,maka hendaklah kita mengakhiri catatan amal kita dengan amal-amal saleh, seperti berpuasa, berdo’a, membaca al qur’an dan banyak berdzikir, karena memang pada malam ini tidak hanya diangkatnya amal, melainkan pula dibukakannya pintu rahmat dan dikabulkannya semua do’a, serta diampuninya segala dosa hamba yang tidak menyekutukanNYa (musyrik), kecuali mereka tukang sihir, dukun, orang yang bermusuhan, orang yang melanggengkan minum arak, orang yang melanggengkan zina, pemakan riba, menyakiti orang tua, pengadu domba dan orang yang memutuskan tali persaudaraan, maka sesungguhnya mereka tidak akan mendapat pengampunan sehingga mereka bertaubat dan meninggalkannya terlebih dahulu. Sebagaimana yang diterima dari Abu Huroiroh ra beliau berkata: “Berkata Rasul saw: “Jibril telah mendatangiku pada malam nishfu sya’ban, lalu dia berkata: “Hai Muhammad ini adalah malam dibukakannya pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat. Dirikanlah sholat, angkatkan kepala dan kedua tanganmu ke langit !” Aku berkata:”Hai Jibril, malam apa ini ?”Kemudian Jibril berkata:”Ini adalah malam dibukakannya tiga ratus pintu rahmat. Alloh akan mengampuni semua hamba yang tidak menyukutukanNYa pada sesuatu apapun, kecuali mereka tukang sihir, dukun, orang yang bermusuhan, orang yang melanggengkan minum arak, orang yang melanggengkan zina, pemakan riba, menyakiti orang tua, pengadu domba dan orang yang memutuskan tali persaudaraan, maka sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni mereka sehingga mereka bertaubat dan meninggalkannya
.” Kemudian Nabi saw keluar dan mendirikan sholat serta menangis dalam sujudnya seraya berkata: “AllooHumma innii a’uudzu bika min ‘iqoobika wasakhothika walaa uhshii tsanaa-a ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika falakal hamdu hattaa tardloo.”

Lantas amalan-amalan apa saja yang meski kita lakukan pada malam nishfu sya’ban itu? Sebagaimana dilansir dari Forum majelisrasulullah.org perihal amalan-amalan pada malam nishfu Sya’ban, Al Habib Munzir Al Musawa berkata bahwa disunahkan untuk memperbanyak sholat malam di malam nishfu sya’ban dan berpuasa keesokannya, sebagaimana hadits Rasul saw :”Bila sudah masuk malam nishfu sya’ban maka bangunlah dimalamnya (perbanyak sholat malam dan dzikir) dan berpuasalah disiang harinya, sungguh Alloh turun ke langit yang terendah berhadapan dengan bumi saat terbenamnya matahari dihari itu (turu ke langit yang terdekat dengan bumi = mendekatkan rahmatNYa kepada hambaNYa) dan berkata: Adakah yang beristighfar kuampuni dosanya, adakah yang ditimpa musibah (yang berdo’a) hingga kuangkat musibahnya, adakah yang meminta rizki akan kulimpahi rizki, adakah…dan adakah…(Rosul saw menjelaskan banyak kemuliaan malam itu dan Alloh swt menjawab do’a-do’a kita.”
Sumber:
- Tafsir Imam Qurtubi juz 16 hal 127
- Sunan Ibn Majah hadits no. 1388 walaupun ada pendapat bahwa riwayat ini tidak shahih, namun baik pula kita banyak bermunajat dimalam ini karena pengampunan Alloh tercurah dimalam ini, sebagaimana riwayat shahih di bawah ini:
dan Rasul bersabda bahwa malam nishfu sya’ban Alloh mengampuni semua hambaNYa, kecuali musyrik dan orang yang suka iri dan dengki/ pemfitnah.
(Shahih Ibn Hiban hadits no. 5667)
(Mawarid Dhamaan hadits no. 1980)
(Sunan Tirmidzi hadits no. 739).

Kemudian, selain itu disunahkan pula memperbanyak do’a, karena do’a dimalam nishfu sya’ban adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits-hadits berikut:
Sabda Rasulullah saw: “Alloh mengawasi dan memandang hamba-hambaNYa dimalam nishfu sya’ban, lalu mengampuni dosa-dosa mereka semuanya, kecuali musyrik dan orang yang pemarah pada sesama muslimin” (Shahih Ibn Hibban no. 5755)
Berkata Aisyah ra: di suatu malam aku kehilangan Rasul saw, dan kutemukan beliau sedang di pekuburan Baqi’, beliau mengangkat kepalanya ke arah langit, seraya bersabda: “Sungguh Alloh turun ke langit bumi dimalam nishfu sya’ban dan mengampuni dosa-dosa hambaNYa sebanyak lebih dari jumlah bulu anjin dan domba” (Musnad Imam Ahmad hadits no. 24825)
Berkata Imam Syafi’i rohimahulloh: “Do’a mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam Jum’at, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam nishfu sya’ban” (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal 319). Dengan fatwa ini maka kita memperbanyak do’a dimalam itu, jelas pula bahwa do’a tak bisa dilarang kapanpun dan dimanapun, bila mereka yang melarang do’a maka hendaknya mereka menunjukkan dalilnya. Bila mereka meminta riwayat cara berdo’a, maka alangkah bodohnya mereka tak memahami caranya do’a, karena caranya adalah meminta kepada Alloh, pelarangan akan hal ini merupakan perbuatan mungkar dan sesat, sebagaimana sabda Rosululloh saw: “Sungguh sebesar-besarnya dosa muslimin dengan muslim lainnya adalah pertanyaan yang membuat hal yang halal dilakukan menjadi haram, karena sebab pertanyaannya” (Shahih Muslim).

Adapun kebiasaan membaca surat Yaasin 3x secara bersama-sama maupun sendiri yang senantiasa diawali permintaan(do’a)/niat setiap sebelum membacanya, Al habib Munzir bekata itu merupakan saran ulama (yang boleh-boleh saja), haram seseorang mengingkarinya, kenapa dilarang? Apa dalilnya seseorang membaca surat Al Qur’an? Melarangnya adalah haram secara mutlak, sebagaimana Imam Masjid Quba yang selalu menyertakan surat Al Ikhlas bila ia menjadi imam, selalu ia membaca Al Ikhlas disetiap raka’atnya setelah surat Al Fatihah, ia membaca Al Fatihah, lalu Al Ikhlas, baru surat lainnya, demikian pada setiap sholatnya, bukankah ini kegiatan yang tak diajarkan oleh Rasul saw? bukankah ini menambah-nambahi bacaan dalam sholat? Maka makmumnya berdatangan pada Rasul saw seraya mengadukannya, maka Rasul saw memanggilnya dan bertanya mengapa ia berbuat demikian, dan orang itu menjawab innii uhibbuHaa (aku mencintainya), yaitu mencintai surat Al Ikhlas, hingga selalu menggandengkan Al Ikhlas dengan Al Fatihah dalam setiap rakaat dalam sholatnya. Apa jawaban Rasul saw? Apakah Rasul saw berkata: “Kenapa engkau buat syariah dan ajaran baru? Apakah ibadah sholat yang kuajarkan belum sempurna???” beliau tak mengatakan demikian, malah seraya berkata: hubbuka iyyaahaa adkholakal jannah (cintamu pada surat Al Ikhlas itulah yang akan membuatmu masuk surga). Hadits ini dua kali diriwayatkan dalam Shahih Bukhori dan Shahih Bukhori adalah kitab hadits yang terkuat dari seluruh kitab hadits lainnya untuk dijadikan dalil, maka jelaslah Rasul saw tak melarang berupa ide-ide baru yang datang dari iman, selama tidak merubah syariah yang telah ada, apalagi hal itu merupakan kebaikan, dan do’a nis
fu sya’ban adalah mulia, apa yang diminta? panjang umur dalam taat pada Alloh, diampuni dosa-dosa, diwafatkan dalam husnul khotimah, salahkah do’a seperti ini? Akankah perkumpulan seperti ini dibubarkan dan ditentang?

Demikianlah keutamaan malam nishfu sya’ban, sekalipun terdapat pula hadits dloif yang mendukungnya, namun beramal dengan hadits dloif adalah boleh, bukan dijadikan dalil hukum syariah, bukan dijadikan dalil hukum fardlu, hukum jinayat atau hukum syariah lainnya. Maka hendaklah kita menjauhi fahaman sekelompok orang yang membid’ah sesatkan amalan nishfu sya’ban, apalagi menyangkanya sebagai perayaan, karena nishfu sya’ban tak ada perayaan, siapa pula yang merayakannya? Ini hanyalah tuduhan kelompok yang dangkal pengetahuan dan berhati busuk. Ulama kita juga tidak mengajarkan sholat khusus nishfu sya’ban, sebagaimana yang sering dituduhkan sekelompok orang, karena memang hal itu adalah bid’ah mazmumah yang berdosa bagi siapa yang melakukannya.

Wallohu a’lam

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam satu tahun ini ada 12 bulan dan 4 bulan diantaranya dicap Alloh swt dan RosulNYA sebagai asyhurul hurum atau bulan-bulan yang mulia. Dimana pada bulan-bulan tersebut tidak boleh ada peperangan yang dimulai oleh umat Islam ataupun mendatangkan kemaksiatan. Pada bulan ini juga dilipatgandakannya pahala kebaikan dan diampuni segala dosa. Diantara 4 asyhurul hurum itu, tiga bulan terletak secara berurutan, yakni Rajab, Sya’ban dan Ramadlan. Sementara yang satu lagi tersendiri, yakni bulan Muharram.

Bulan Sya’ban disebut Rosul sebagai “bulanku” (bulan Rosululloh), sebab itu, para ulama menyebutnya bulan sholawat, sehingga pada bulan ini hendaklah kita memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi saw disamping berpuasa.

Dari Anas bin Malik ra bahwasannya Kanjeng Nabi Muhammad saw bersabda (yang artinya wallohu a’lam):”Sesungguhnya Alloh swt membuat sungai dari cahaya di bawah arasy, kemudian Dia menciptakan malaikat yang mana mempunyai dua sayap, sayap yang satu di sebelah Masyrik dan sayap yang satu lagi di sebelah Maghrib. Sementara kepalanya berada di bawah arasy dan kedua kakinya di bawah bumi yang tujuh. Tatkala membaca sholawat sang hamba kepadaku di bulan Sya’ban, maka Alloh memerintahkan malaikat tersebut untuk berenang dalam air kehidupan. Kemudian malaikat tersebut berenang dan keluar lagi kemudian mengepakkan kedua sayapnya, maka menetes dari bulu-bulu sayapnya tetesan-tetesan air. Kemudian dari setiap tetesan tersebut, Alloh swt menciptakan malaikat yang senantiasa memintakan ampunan bagi dia (hamba yang membaca sholawat Nabi di bulan Sya’ban) hingga hari kiamat “
Kanjeng Nabi Muhammad saw juga bersabda (yang artinya wallohu a’lam):”Keunggulan bulan Sya’ban daripada bulan-bulan lainnya adalah seperti unggulnya aku terhadap nabi-nabi yang lain dan keunggulan Romadlon dibandingkan bulan-bulan yang lainnya adalah seperti unggulnya Alloh swt terhadap hamba-hambaNYA.”

Betapa banyak hadits yang menerangkan keutamaan-keutamaan bulan Sya’ban ini, diantaranya yang dikutip dari alamat blog http://pondokhabib.wordpress.com (blog Kecintaan dan Kasih Sayang Kepada Ahlul Baiyt):

1. Telah memberi tahu kepada kami Abdullah bin Yusuf telah memberi tahu kami Malik daripada Abi An-Nadhri daripada Abi Salamah daripada Sayyidatina ‘Aisyah telah berkata: Rosululloh saw berpuasa sehingga kita mengatakan dia tidak berbuka dan baginda saw berbuka sehingga kami berkata dia tidak berpuasa. Dan aku tidak pernah mel
ihat Rosululloh saw menyempurnakan puasa sebulan penuh melainkan pada bulan Romadlon dan aku tidak pernah melihat baginda saw banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya’ban. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori di dalam sohihnya dan Imam Muslim di dalam sohihnya).

2. Telah memberi tahu kami Muaz bin Fudhalah telah memberi tahu kami Hisham daripada Yahya daripada Abi Salamah sesungguhnya sayyidatina Aisyah telah memberitahunya dengan berkata: Nabi saw tidak banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya’ban dan bainda saw telah berpuasa penuh pada bulan Sya’ban. Dan adalah baginda saw bersabda: Lakukanlah amalan yang mana kamu mampu membuatnya, maka sesungguhnya Alloh tidak membebankan (mewajibkan) kamu sehingga kamu merasa berat dengan bebanan. Dan apa yang disukai Rosululloh saw adalah sembahyang (sunat) yang senantiasa dibuat sekalipun sedikit. Dan adalah baginda saw apabila mendirikan sembahyang maka baginda saw senantiasa berterusan di dalam berbuat demikian. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori di dalam sohihnya dan Imam Muslim di dalam sohihnya).

3. Telah memberi tahu kami Sufian bin ‘Uyainah daripada Ibn Abi Labid daripada Abi Salamah telah berkata: Aku telah bertanya sayyidatina Aisyah tentang puasa Rosululloh saw, maka dia menjawab: Adalah baginda saw berpuasa sehingga kami berkata: Sesungguhnya baginda saw telah berpuasa dan baginda saw berbuka sehingga kami mengatakan: Baginda saw telah berbuka. Aku tidak pernah melihat baginda saw berpuasa dari sebulan saja lebih banyak daripada puasa baginda saw pada bulan Sya’ban. Kadang-kadang baginda saw berpuasa Sya’ban sebulan penuh dan kadang-kadang baginda saw berpuasa sedikit daripadanya. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam sohihnya).

4. Telah memberitahuku Muawiyah bin Soleh daripada Abdullah bin Abi Qois sesungguhnya dia telah mendengar Sayyidatina Aisyah berkata: Bulan yang disukai oleh Rosululloh saw yang mana baginda saw berpuasa padanya adalah bulan Sya’ban kemudian disambung puasa pada bulan Romadlon. (Hadits ini sanadnya Hasan dan diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasai, Ibn Khuzaimah, Al-Baihaqi dan Al-Baghowi).

5. Telah memberitahuku Al-Maqburi daripada Abu Hurairah daripada Usamah bin Zaid telah berkata: Aku telah berkata: Wahai Rosululloh! Sesungguhnya kau telah berpuasa pada bulan yang mana aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan yang mana engkau berpuasa padanya. Bertanya Rosululloh saw: Bulan apa? Aku berkata: Sya’ban bulan diantara Rajab dan Romadlon yang mana melupai manusia mengenainya (diangkat kepadaNYA) segala amalan semua hamba, maka aku lebih suka amalanku tidak diangkat melainkan bersamanya aku berpuasa. Maka aku berkata lagi: Aku melihat engkau berpuasa pada hari Senin dan Kamis dan tidak mengabaikan kedua-dua hari itu. Sabda baginda saw: Sesungguhnya segala amalan hamba akan diangkat pada kedua-dua hari itu maka aku lebih suka tidak diangkat amalanku melainkan bersamanya aku berpuasa. (Hadits ini sanadnya Hasan dan telah dikeluarkan oleh An-Nasai, Imam Ahmad dan Imam Al-Baihaqi).

HADITS MENGENAI KELEBIHAN MALAM NISFU SYA’BAN

1. Daripada Makhlul daripada Malik bin Yakhamir daripada Muaz bin Jabal daripada Nabi saw telah bersabda: Sesungguhnya Alloh ta’ala memerhatikan makhlukNYa pada malam nisfu (pertengahan) daripada Sya’ban, maka Dia akan mengampuni semua makhlukNYA melainkan orang yang syirik atau orang yang bermusuhan. (Hadits ini isnadnya Hasan dan dikeluarkan oleh Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan At-Thobroni).

2. Daripada Hisham bin Hassan daripada (Al-Hasan daripada) Usman bin Abi Al-’As daripada Nabi saw telah bersabda: Apabila tibanya malam nisfu Sya’ban, pemanggil akan memanggil: Adakah daripada mereka yang memohon keampunan maka niscaya diampuni baginya? Adakah daripada kalangan mereka yang meminta maka akan diberi? Maka tidak ada seseorang yang memohon sesuatu melainkan akan diberi, kecuali penzina dengan kemaluannya ataupun orang syirik. (Hadits ini isnadnya Hasan dan dikeluarkan oleh Al-Kharaiti, Al-Baihaqi dan Imam Sayuti).

Penerangan Hadits

1. Hadits-hadits ini menjelaskan kepada kita bagaimana kelebihan bulan Sya’ban yang mana Rosululloh saw senantiasa berpuasa bahkan melebihi bulan-bulan yang lain.

2. Hadits-hadits ini juga menerangkan bagaimana hukum berpuasa pada bulan Sya’ban yaitu sunat bukannya wajib. Oleh karena itu, baginda saw kadang-kadang berpuasa penuh sebulan pada bulan ini dan pada suatu ketika baginda tidak berbuat demikian. Kita perlu ingat bahwa setiap perbuatan Rosululloh saw merupakan sunnah fi’liyyah (sunnah yang berasaskan perbuatan) yang boleh dijadikan hujjah di dalam mengeluarkan sesuatu hukum.

3. Baginda saw juga menggalakkan kita agar di dalam melakukan sesuatu yang baik, terutama dalam ibadah khusus seperti sholat sunat, puasa sunat, dan sedekah maka ia mestilah dilakukan secara berterusan walaupun sedikit. Kita kadang-kadang melakukan perkara ini secara banyak tetapi tidak berterusan dan ia dilakukan apabila timbulnya perasaan rajin saja. Ini menyebabkan kita kurang merasai hikmat dan kesan daripada amalan tersebut. Ini karena apabila ia dilakukan secara berterusan akan mendatangkan kepada kita perasaan untuk menghisab dan menghitung diri sendiri secara berterusan dan ini akan melahirkan individu yang senantiasa berada dalam ibadah dan mengingati Alloh setiap masa dan tempat sama ada ditikar sembahyang, ketika belajar maupun ketika bekerja.

4. Galakan ini juga bertujuan untuk melatih dan membiasakan diri kita dengan berpuasa sebelum masuknya bulan Romadlon yang memang kita mesti berpuasa padanya.

5. Baginda juga menekankan bagaimana seorang muslim mesti percaya bahwa setiap amalan yang dilakukan bukanlah sia-sia malah ia akan diangkat kepada Alloh untuk dihisab kualitinya. Apabila perasaan ini timbul sepanjang kehidupan dan peribadahan kita seharian akan menyebabkan kita semakin yakin kepada balasan Alloh terhadap apa yang telah kita sama-sama tunaikan. Ini dapat menghindarkan diri daripada melakukan sesuatu ibadah sambil lewa dan penuh dengan perasaan malas dan juga mampu memberi peringatan agar jangan mendekati segala maksiat karena setiap gerak laku kita diperhatikan dan dihisab oleh Alloh swt.

6. Baginda saw juga menjelaskan bagaimana adanya waktu-waktu tertentu yang mempunyai kelebihannya tersendiri seperti pada hari Senin dan Kamis serta pada bulan Sya’ban terutama pada malam pertengahan bulannya. Baginda saw juga mengajar kita agar menggunakan kesempatan yang ada dengan berdo’a dan beribadah kepada Alloh.

7. Islam mengajar kita agar menjaga masa dan menggunakan peluang yang ada untuk beribadat bukannya dihabiskan begitu saja disebabkan kita tidak merasa berdosa apabila tidak mempedulikan masa. Orang kafir mampu menjaga masa dan menggunakan masa untuk perkara berfaedah serta tidak kurang juga digunakan untuk mengatur strategi di dalam menyerang Islam. Adakah kita terus hanyut dibuai mimpi sedangkan musuh Islam telah lama merancang untuk menghancurkan kita.

8. Islam mau melahirkan umat yang berkualiti dalam ibadah, masa dan pekerjaan yang mana ia tidak menyuruh kita sekedar menunaikan ibadah khusus seperti sembahyang, puasa dan bersedekah saja tetapi juga menekankan agar setiap ibadah yang dilakukan mampu melahirkan umat yang sadar siapa mereka dan apa tanggungjawab mereka. Ingatlah bahwa Rosululloh saw pernah memarahi sahabat yang hanya mau beribadah khusus saja, sedangkan Rosululloh saw sendiri bukan saja merupakan orang yang kuat beribadat khusus, memo
hon keampunan malah baginda juga sebagai bapa, suami, ahli masyarakat dan juga yang paling besar dan berat adalah sebagai pemimpin negara. Semuanya dikira ibadah jika dilakukan mengikut landasan Islam. Kita jangan termakan dengan dakwah sesat golongan kuffar yang menyatakan ibadah adalah perkara yang berkaitan dengan sembahyang, puasa, haji dan ibadah khusus yang lain saja tanpa mempedulikan kewajiban kita yang besar seperti tanggungjawab terhadap kerja, keluarga, masyarakat setempat dan juga pemerintahan negara.

9. Islam mencela mereka yang syirik, berzina dan bermusuhan yang mana do’a mereka tidak dimaqbulkan.

Demikianlah betapa besar dan mulianya bulan Sya’ban ini. Yahya bin Muaz berkata: Sesungguhnya dalam Sya’ban itu terdapat lima huruf yang diberikan suatu pemberian dari setiap hurufnya kepada Mukminin: Dari huruf Syin, diberi Asysyarif wasysyafa’at (kemuliaan dan syafa’at/pertolongan), dari huruf ‘ain diberi al ‘izzah wal karomah (kegagahan dan kemuliaan), dari huruf ba diberi al birru (kebaikan), dari huruf alif diberi al ulfah (kelembutan/kasih sayang), dari huruf nun diberi an nur (cahaya).
Sebab itu, Rajab adalah bulan untuk mensucikan badan, sya’ban untuk mensucikan hati dan Romadlon adalah bulan untuk mensucika ruh. Barang siapa yang mensucikan badannya dibulan Rajab suci hatinya dibulan Sya’ban, dan barang siapa yang mensucikan hatinya di bulan Sya’ban, maka suci ruhnya dibulan Romadlon. Barang siapa yang tidak mensucikan badannya dibulan Rajab dan hatinya dibulan Sya’ban, maka bagaimana bisa ruhnya akan suci dibulan Romadlon? Maka dari itu, berkata para ahli hikmah: Sesungguhnya Rajab adalah bulan istighfar dari berbagai macam dosa, dan Sya’ban adalah bulan untuk membereskan hati dari setiap kecacatan sementara Romadlon adalah bulan untuk menerangi hati dan lailatul qodr adalah malam untuk mendekatkan diri kepada Alloh.
Kanjeng Nabi saw bersabda(yang artinya wallohu a’lam): “Barang siapa yang mengagungkan bulan Sya’ban dan bertakwa kepada Alloh serta beramal soleh dengan taat kepadaNYA dan menahan diri dari maksiat maka Alloh taala mengampuni dosa-dosanya dan mengamankannya pada tahun tersebut dari segala macam bahaya dan penyakit.”

Semoga seluruh kaum muslimin dan muslimat senantiasa mendapat kemuliaan dan keberkahan bulan Sya’ban.

Semoga seluruh kaum muslimin dan muslimat senantiasa mendapat kemuliaan dan keberkahan bulan Sya’ban.

Alloh swt berfirman dalam QS. At Taubah:36 yang artinya wallohu a’lam “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh ialah dua belas bulan dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu dan perangilah kaum Musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwasannya Alloh beserta orang-orang yang bertakwa”.
Dari keterangan tersebut dapat kita ketahui sebagaimana yang dijelaskan para ulama ahli tafsir, bahwa Alloh swt telah menetapkan sejumlah 12 bulan (tentunya berdasarkan tahun menurut peredaran bulan/tahun qomariyah) di lauhul mahfuzh ketika Alloh menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Diantara bulan-bulan tersebut ada empat bulan haram yang Alloh perintahkan kita dalam empat bulan haram tersebut untuk tidak menzholimi diri sendiri, yakni dengan tidak berbuat maksiat/dosa dan tidak membuat kerusakan serta menzholimi orang lain, sekalipun itu kaum kufar/musyrikin. Maka diharamkanlah bagi kita pada bulan-bulan tersebut berperang dengan kaum Musyrikin, selama mereka tidak memerangi kita terlebih dahulu. Sebaliknya, jika pada empat bulan haram tersebut justeru kaum Musyrikin yang terlebih dahulu menyerang, maka tidak ada pengecualian dari Alloh swt pada semua bulan yang dua belas untuk tidak melawannya, kita diperbolehkan melawan/berperang, sekalipun jatuh pada bulan-bulan haram, sebagaimana yang dijelaskan Alloh dalam QS. At Taubah:36 di atas.
Para ulama ahli tafsir mengatakan bahwa empat bulan haram tersebut ialah Dzulqo’dah (Hapit), Dzulhijjah (Rayagung), Muharram dan Rajab.
Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram yang letaknya menyendiri diantara bulan jumadil akhir dan sya’ban(ruwah),berbeda dengan ketiga bulan haram lainnya yang letaknya secara berurutan, yakni Dzulqo’dah (hapit), Dzulhijjah (Rayagung) dan Muharram, sebagaimana yang diterangkan hadits Nabi saw dalam khutbah idul qurban dalam haji wada,beliau bersabda: “(alaa inna azzamaana qod istadaaro kaHaiatiHi yauma kholaqo AllooHu assamaawaati wal ardli, assanatu itsnaa ‘asyaro syaHron minHaa arba’atu hurumin, tsalaatsun mutawaaliyaatun:dzulqo’datu wadzulhijjatu walmuharromu, warojabu mudloro alladzii baina jumaadai wasya’bana)”. Artinya wallohu a’lam: “Ingatlah…!Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaanya di hari dimana Alloh swt menciptakan langit dan bumi. Sa
tu tahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang diharamkan/dimuliakan Alloh swt, tiga bulan terletak berturut-turut, yakni: Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Dan Rajab adalah bulan Mudlor yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban”.
Pada bulan-bulan haram ini, setiap kemuliaan diabadikan, dosa-dosa diampuni, ketaatan diterima dan pahalapun berlipat ganda, karena satu kebaikan pada bulan-bulan biasa itu akan diberi pahala sepuluh kali lipat, sebagaimana yang difirmankan Alloh swt yang artinya wallohu a’lam “Barangsiapa yang berbuat satu kebaikan, maka berhak atasnya sepuluh kali lipat misil kebaikan tersebut”. Sementara pada bulan Rajab Alloh melipat gandakan pahala sampai tujuh puluh kalì lipat, pada bulan Sya’ban tujuh ratus kali lipat, sedangkan pada bulan Romadlon dilipatgandakan sampai seribu kali lipat. Tiadalah pahala yang berlipat ganda tersebut melainkan dikhususkan untuk umat baginda alam Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Keutamaan bulan Rajab banyak dijelaskan dalam hadits Nabi Saw, diantaranya sabda nabi:”Rojab adalah bulan Alloh dan Sya’ban adalah bulanku sementara Romadlon adalah bulan umatku”(HR.Abu Al Fath bin Abi Al Fawaris dari Hasan Al Basri, hadits mursal). Bulan Rojab disebut sebagai bulan Alloh, yang dituangkan di dalamnya rohmat Alloh kepada hamba-hambaNYa. Sebagian ulama menyebutkan bahwa Rajab adalah bulan istighfar dan taubat kepada Alloh sesuai dengan istilah ‘Rajab Bulan Alloh’ sehingga pada bulan ini kita dituntut untuk banyak bertaubat kepadaNYa, kembali kepadaNYa, dan meminta maaf sepenuh hati kehadirat Ilahi, agar benar-benar diampuni dan didekatkan kepadaNYa. Sementara bulan Sya’ban disebut sebagai bulan Nabi, maka selayaknya kita memperbanyak sholawat dan salam kepada beliau saw di bulan itu. Adapun Romadlon seperti kita ketahui adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’anul karim, maka selayaknya pada bulan tersebut kita perbanyak tadarus Al Qur’an di samping amalan-amalan ibadah lainnya. Ibarat menanam tanaman, Rajab adalah bulan kita menanam benih, Sya’ban kita menyirami dan memupuknya, sedang Romadlon kita memanen hasilnya. Itulah keterkaitan tiga bulan tersebut. Demikianlah apa yang dikatakan Al Imam Abu Bakar Al Warroq Al Balkhi. Beliau juga berkata:”Perumpamaan Rajab seperti anginnya, Sya’ban seperti awannya dan Romadlon seperti hujannya”.
Diceritakan bahwa Rajab itu terdiri dari tiga huruf: ro, jim dan ba. Ro berarti rohmat Alloh, dan jim berarti jirmul abdi(kej
elekan hamba)sedangkan ba-nya berarti birrulloh (kebaikan Alloh). Hal ini mengisyaratkan seakan-akan Alloh berseru kepada hamba-hambaNYa:”Hai hambaku…!telah aku jadikan kejelekan dan kejahatan-kejahatanmu diantara kebaikan dan rohmatku, maka hendaknya janganlah tetap tersisa bagimu kejelekan dan kejahatan tersebut dengan memuliakan bulan Rajab”.
Demikianlah istimewanya bulan Rajab, sehingga diriwayatkan dari Nabi saw bahwasannya beliau bersabda yang artinya wallohu a’lam:”Barangsiapa yang menghidupkan malam pertama di bulan Rajab, maka hatinya tidak akan mati, tatkala hati-hati yang lain telah mati, dan Alloh memberikan kebaikan kepadanya serta dia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ketika ibunya melahirkannya. Dan dia akan menjadi pembela dan penolong bagi tujuh puluh ribu ahli ma’siat yang telah berhak mendapat neraka”.
Dari sahabat Anas bin Malik ra bahwasannya Nabi saw bersabda (yang artinya wallohu a’lam):” Barangsiapa yang sholat ba’da maghrib pada malam pertama bulan Rajab sebanyak 20 roka’at yang mana pada setiap roka’atnya dibacakan surat Al Fatihah dan Al Ikhlas serta uluk salam disepuluh kalikan, maka Alloh akan menjaganya, ahli baitnya dan keluaraganya dari setiap musibah dunia dan adzab akhirat”. Sholat di sini bukanlah sholat yang disebut sebagai sholat roghoib, karena sebagaimana kita ketahui dari para ulama, bahwasannya sholat roghoib adalah sholat sunat12 roka’at(bukan 20 roka’at) diantara magrib dan isya pada malam Jum’at pertama(bukan malam pertama) bulan Rajab itu tidak ada dasarnya sama sekali dan merupakan bid’ah madzmumah yang patut ditinggalkan dan berdosa bagi yang melaksanakannya, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab i’anatuththolibin juz 1 hal 270 “Berkata pengarang kitab Irsyadul ibad bahwasannya diantara bid’ah madzmumah(ini mengindikasikan bahwa bid’ah ada 2:hasanah&madzmumah/sayyiah) yang berdosa bagi yang mengerjakannya serta wajib bagi pemerintah untuk mencegah pelakunya, yaitu sholat roghoib 12 roka’at antara maghrib dan isya pada Jum’at malam pertama bulan Rajab, sholat malam nishfu sya’ban sebanyak 100 roka’at, sholat pada Jum’at akhir bulan Romadlon sebanyak 17 roka’at dengan niat kodlo sholat 5 waktu yang belum terkodlo, dan sholat hari ‘asyuro sebanyak 4 roka’at atau lebih dan sholat al usbu’. Adapun hadits-haditsnya itu palsu nan bathil dan janganlah tertipu orang yang menuturkannya”. Dari keterangan tersebut, jelaslah tidak ada bentrokan dengan apa yang diriwayatkan sahaba t Anas bin Malik ra, sebagaimana femahaman sekelompok orang yang mengatakan bid’ah sesat sholat malam pertama bulan Rajab, dengan dalih sholat roghoib. Toh para para ulamapun mengetahui mengenai sholat roghoib dan senantiasa melaksanakan sholat 20 roka’at pada malam pertama di bulan Rajab, hanya saja dengan niat sholat awwabin(dan ini dianjurkan/disunatkan). Jadi, jelas beda antara sholat yang diriwayatkan sahabat Anas bin Malik ra dengan sholat roghoib.

Bulan Rajab juga adalah bulan dikabulkannya do’a-do’a, terutama pada malam pertamanya, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Asakir bahwasannya Rosululloh saw bersabda (yang artinya wallohu a’lam):”Lima malam tidak akan ditolak do’a-do’a di dalamnya: awal malam bulan Rajab, malam nishfu sya’ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri dan malam an nahr (idul adha)”
Dari sahabat Anas bin Malik, beliau berkata:”Rosululloh saw jika telah memasuki bulan Rajab, beliau banyak berdo’a:”AllooHumma baarik lanaa fii rojaba wasya’bana waballighnaa romadloona”(Ya Alloh berikanlah keberkahan bagi kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Romadlon). Redaksi do’a tersebut disebut juga istighfar rajab, yang mana Syekh Muhyiddin Abdul Qodir Al Manafi menerangkan dan mengijazahkannya dengan mengulang lafaz alloHumma baarik lanaa, sehingga redaksinya menjadi: AllooHumma baarik lanaa fii rojaba wasya’bana allooHumma baarik lanaa waballighnaa romadloona. Pengulangan ini tidak mengapa, karena tidak melanggar kaidah-kaidah dalam hal beistighfar dan berdo’a.

Selain memperbanyak istighfar dan taubat, amalan yang tak kalah penting adalah puasa. Meski tidak ada hadits shoheh yang menerangkan puasa di bulan Rajab, melainkan hadits dloif(lemah,bukan palsu), namun kesunahan puasa di bulan Rajab ini sudah termasuk dalam keumuman sunahnya puasa pada asyhurul hurum, seperti yang diriwayatkan dari Mujibah Al Bahiliyah dari ayahnya, Rosululloh saw bersabda (yang artinya wallohu a’lam): “Berpuasalah kalian pada bulan-bulan haram atau tinggalkan(puasa)”. Perlu diketahui, hadits dloif(lemah) bukan berarti tidak boleh diamalkan, selama kedloifannya tidak fatal, maka hadits dloif dapat kita amalkan untuk masalah-masalah fadloilul amal, termasuk puasa di bulan Rajab. Perumpamaan hadits dloif seperti hadnphone yang lowbat, untuk menelfon sudah barang tentu Hp tersebut tidak dapat digunakan, tapi jika untuk sekedar SMS tentu saja masih bisa digunakan. Contoh lain adalah silet. Benda tajam yang kecil ini san gat mustahil digunakan untuk menebang pohon yang besar, tapi tidak mustahil jika kita gunakan untuk mencukur rambut atau memotong kuku. Demikian juga dengan hadits dloif(lemah). Adapun mereka yang mengatakan hadits-hadits seputar keutamaan puasa di bulan Rajab adalah hadits palsu, maka itu pendapatnya sendiri yang tidak menggunakan nilai-nilai dan disiplin ilmu serta pendapat mayoritas ulama ahlu sunnah waljama’ah.

Berkaitan dengan puasa di bulan Rajab, diriwayatkan dari ‘Urwah, dia bertanya kepada Abdullah bin Umar,”Apakah Rosululloh saw berpuasa di bulan Rajab?”Ibnu Umar menjawab:”Benar dan beliau saw memuliakannya.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majjah).
Paling sedikit puasa di bulan Rajab satu hari, yakni hari pertama dan sebagaimana puasa pada bulan-bulan mulia lainnya, puasa rajab hukumnya adalah sunat.
Diriwayatkan pula dari Abu Qilabah, seorang pembesar tabi’in, beliau berkata:”Di surga terdapat sebuah istana yang diperuntukan bagi orang-orang yang berpuasa di bulan Rajab.” Perihal Abu Qilabah, al Imam Al Baihaqiy berkata:”Beliau adalah pembesar tabi’in, tidaklah beliau menyampaikan sesuatu kecuali karena mendengar generasi di atasnya(para sahabat).”
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbar ra bahwasannya Rosululloh saw bersabda(yang artinya wallohu a’lam):”Barang siapa yang berpuasa pada tanggal 1 di bulan Rajab, maka pahala puasanya sama seperti ia berpuasa selama 3 tahun, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 2 di bulan Rajab maka pahala puasanya sama seperti ia berpuasa selama 2 tahun, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 3 di bulan Rajab, maka pahala puasanya sama seperti ia berpuasa selama satu tahun dan setelah 3 hari itu(dari tanggal 4 sampai akhir bulan Rajab)pahala puasanya sama seperti puasa setiap bulan.” Dalam hadits Bukhori dan Muslim, bahwasannya Rosululloh saw bersabda(artinya wallohu a’lam):”Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang warna airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis daripada madu dan barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan Rajab, maka Alloh akan meminumkan air sungai itu kepadanya(orang yang berpuasa).” Bahkan saking mulia dan berkahnya puasa di bulan Rajab, dari Abu Hurairah ra, Rosululloh rapw bersabda(artinya wallohu a’lam):”Tidak ada puasa lagi setelah bulan Romadlon (yang lebih afdhol) kecuali puasa pada bulan Rajab dan Sya’ban.”
Kemudian daripada itu, diriwayatkan dari Kanjeng Nabi saw bahwasannya beliau bersabda(yang artinya wallohu a’lam):”Ingatlah… Rajab adalah bulan bulan Alloh al ashom (tuli). Barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan Rajab karena iman dan mengharapkan ridlo Alloh, maka berhak atasnya keridloan Alloh yang maha besar. Dan barang siapa yang berpuasa dua hari, maka tidak bisa mensifati para washifun dari ahli langit dan bumi akan kemuliaan-kemuliaan Alloh baginya(orang yang puasa). Dan barang siapa yang berpuasa tiga hari, maka diselamatkan dari setiap musibah dunia dan adzab akhirat, penyakit gila, kusta dan barosh, serta diselamatkan dari fitnah dajjal. Dan barang siapa yang berpuasa tujuh hari, maka terkunci atasnya tujuh pintu neraka, dan barang siapa yang berpuasa delapan hari, maka terbuka baginya delapan pintu surga. Dan barang siapa yang berpuasa sepuluh hari, maka tidaklah dia meminta kepada Alloh, kecuali Alloh mengabulkan setiap permintaannya, dan barang siapa yang berpuasa lima belas hari, maka Alloh mengampuni dosa-dosanya(orang yang berpuasa) yang telah lalu dan menggantikan kejelekan-kejelekannya dengan kebaikan. Dan barang siapa yang menambah(puasanya lebih dari lima belas hari), maka Alloh akan menambahkan pula pahalanya.”
Al Imam Mawardi berkata dalam kitab Al Iqna’: yustahabbu shoumu rojaba wasya’ban (disunatkan puasa rajab dan sya’ban). Di sini jelas, bahwa kesunahan puasa Rajab itu bukanlah isapan jempol belaka.

NAMA-NAMA BULAN RAJAB

Suatu kekhasan dan kemuliaan bulan Rajab, yakni dengan memiliki banyak nama. Dalam kitab an nafahat an nuroniyyah, syekh Yusuf Khaththar mengatakan bahwa Rajab memiliki empat belas nama, dan banyaknya nama ini cukuplah menunjukkan kemuliaan dan kehormatannya. Nama-nama tersebut ialah: Rajab, syahrulloh ‘(bulan Alloh), Rajab Mudlor, Munshilul Asinnah, Al Ashom, Al Ashob, Munaffis, Muthohhir, Mu’alla, Muqiim, Harim, Muqosyqisy, Mubarri’ dan Fardun. Sebagian ulama menambahkan dengan nama: Rajam, Munshillul Alat dan Munzilul Asinnah.
Dinamakan bulan Rajab, karena pada bulan ini orang-orang Arab mengagungkannya, mereka berkata: rojabtu asysyai-a idzaa ‘azhomtuHu(aku mengagungkan sesuatu tatkala aku mengagungkannya). Dan salah satu pengagungannya terhadap bulan Rajab ialah bahwa sesungguhnya para pelayan ka’bah senantiasa membuka pintu ka’bah di bulan Rajab ini setiap hari dan pada selain bulan Rajab tidak pernah membukanya, kecuali pada hari Senin dan Kamis. Mereka berkata: bulan Rajab adalah bulan Alloh dan ka’bah adalah baitulloh dan hamba ini adalah hamba Alloh. Maka janganlah seorang hamba dilarang masuk ke baitulloh di bulan Alloh ini(Rajab). Kemudian, dinamakan al Ashom karena sesungguhnya malaikat kiromal katibin senantiasa mencatat kebaikan-kebaikan dan kejelekan-kejelekan di selain bulan Rajab, sementara di bulan Rajab mereka senantiasa hanya mencatat kebaikan-kebaikan saja, tidak mencatat kejelekan-kejelekan, sebab mereka tidak mendengar satupun kejelekan di bulan Rajab.

Rajab adalah bulan Alloh, Sya’ban bulan Rosululloh sedangkan Romadlon adalah bulan umat Rosul. Sebab itu, para ulama menyebutnya Rajab adalah bulan istighfar, Sya’ban adalah bulan sholawat, sementara Romadlon adalah bulan Al Qur’an.
Wallohu a’lam.

(Dari Berbagai Sumber)

RATU PUCUK UMUN DAN PANGERAN SANTRI (1530-1579)

Telah dikemukakan pada artikel sebelumnya bahwa penerus tahta kerajaan Sumedang Larang setelah Nyi Mas Ratu Patuakan adalah puterinya sendiri dari hasil perkawinannya dengan Sunan Corenda, yaitu Nyi Mas Ratu Inten Dewata atau yang lebih pamor dengan sebutan Ratu Pucuk Umun. Beliau memindahkan ibu kota kerajaan dari Cìguling, Pasanggrahan, Sumedang Selatan ke daerah Kutamaya, Padasuka Sumedang Utara.

Pada fase ini Sumedang Larang mengalami kemajuan yang pesat, terutama dalam bidang sastra, agama dan budaya. Selain itu, kekuasaan dan kekuatan Pajajaran sudah tidak tampak lagi di Sumedang Larang juga di kerajaan-kerajaan daerah lainnya, sehingga pada saat itu Sumedang Larang merupakan kerajaan yang merdeka dan berdaulat penuh secara ‘de facto’. Dan benar-benar berdaulat penuh bahkan disebut-sebut sebagai penerus kerajaan Pajajara dimasa kepemimpinan Pangeran Angkawijaya, putera tertua Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri yang kelak bergelar Prabu Geusan Ulun.

Pada abad ke XV muncul negara-negara baru di Pulau Jawa. Setelah Majapahit ditaklukan, munculah Kesultanan Demak yang berkedudukan sebagai pusat penyebaran agama Islam. Kemunculan Syarif Hidayatullah, putera Nyi Mas Rara Santang dan Pangeran Baghdad, Irak di Pulau Jawa mendorong perkembangan negara-negara yang menganut Islam. Syarif Hidayatullah mendirikan Kesultanan Cirebon yang dalam perkembangannya menjadi pusat penyebaran agama Islam di bumi Parahiangan. Beliau yang juga bergelar Sunan Gunung Jati memperluas kekuasaan ke wilayah Barat Pajajaran dengan mendirikan Kesultanan Banten, dengan mengangkat Hasanudin sebagai Sultan Banten (1522-1579).

Kedudukan Sumedang Larang dalam fase ini berada diantara Pajajaran (meski sudah tidak berpengaruh lagi), Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten, sehingga Sumedang Larang berada dalam bayang-bayang pengaruh Islam. Syarif Hidayatullah pergi ke Jawa, menetap di Karangsembung kemudian menikah dengan Kusumasari, melahirkan seorang puteri bernama Mwertasari. Kemudian dijodohkan dengan Bupati Terung Surabaya yang setelah menganut agama Islam bergelar Raden Husen atau Pangeran Pamalelaran. Perkawinan tersebut melahirkan Pangeran Tjakraningrat atau Pangeran Santri Pamalekaran Ing Wali yang kelak menjadi suami Ratu Pucuk Umun. Dalam sumber lain, yang dimaksud Pangeran Santri ini adalah cucu Syekh Maulana Abdurachman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan

Arab Hadlromaut yang berasal dari Mekah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di Kerajaan Sunda.

Pada tahun 1551, Pangeran Santri bersama santri-santrinya pergi ke Sumedang Larang dengan tujuan menyebarkan agama Islam. Santri-santrinya membawa waditra seni gembyung sebagai mediasi halus dalam menyiarkan Islam. Wangsa Syahrudin (eyang Suci) menyebarkan Islam di daerah Tanjungkerta dan sekitarnya. Sacapati, Jayapati dan Mandepati menyiarkan Islam di daerah Citimun, Cimalaka dan sekitarnya. Sedangkan Pangeran Santri menyiarkan Islam di daerah Cisarua, Ganeas dan sekitarnya. Kemudian menikah dengan Ratu Pucuk Umun. Sejak itulah Islam berkembang di lingkungan keluarga dan kerabat Ratu Sumedang Larang. Perkawinan Pangeran Santri dengan Ratu Pucuk Umun melahirkan 6 orang putera, yakni:
1. Pangeran Angkawijaya (prabu Geusan Ulun), penerus tahta kerajaan Sumedang Larang
2. Kyai Rangga Haji. Beliau mengalahkan Aria Kuda Panjalu dari Narimbang supaya masuk Islam
3. Kyai Demang Watang di Walakung
4. Santoan Wirakusumah yang keturunannya berada di Pagaden dan Pamanukan, Subang
5. Santoan Cikeruh
6. Santoan Awi Luar
Kesemuanya menjadi ulama, termasuk Pangeran Angkawijaya ya ulama ya umaro. Mereka menyebarkan Islam ke setiap penjuru desa. Dan sejak itulah Sumedang Larang mulai bergeser ke Cirebon.

Pangeran Santri mengembangkan agama Islam dengan menggunakan pendekatan sosial dan budaya, secara perlahan-lahan prinsip-prinsip Islam menyusup ke dalam tradisi-tradisi ritual, tetapi tidak menghancurkan nilai-nilai budaya aslinya, sehingga ajaran Islam menyentuh seluruh aspek kehidupan. Subhanalloh…! Inilah dakwah yang dicontohkan Rosul, Islam diperkenalkan Pangeran Santri kepada penduduk Sumedang Larang secara damai, tanpa kekerasan, pertumpahan darah maupun peperangan. Seluruh masyarakat Sumedang dapat merasakan benar-benar akan sejuknya Islam yang rahmatan lil alamiin, sehingga tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menganut agama Islam. KH. Muhyiddin mudir am MT Asysyifa Walmahmuudiyyah Jabar mengatakan bahwa di zaman dulu tidak sedikit para resi pemeluk agama Hindu yang setelah menganut agama Islam menjadi wali/kekasih Alloh, karena mereka sendiri sebenarnya sudah tahu akan masalah Ketuhanan, dalam akalnya telah terprogram sungguh mustahil ada langit, bumi beserta isinya jika tidak ada yang menciptakan. Mereka meyakini Tuhanlah yang menciptakannya dan sudah barang tentu Tuhhanya itu berbeda dengan ciptaannya. Hanya saja, mereka tidak tahu siapa Tuhan yang hak itu. Maka setelah datang Islam melalui mediasi halus, diperkenalkanlah bahwaTuhan yang hak, sang pencipta seluruh alam itu adalah Alloh SWT. Dialah Dzat yang awal tanpa permulaan dan yang akhir tanpa ujung. Dialah Dzat yang berdiri sendiri tanpa membutuhkan tempat ataupun yang menciptakan. Konsep-konsep Ketuhanan tersebut sudah terpatri dalam akal mereka, sehingga mereka menganut Islam dengan segera dan menyampai tingkatan makrifat, berhubung hati dan akalnya sudah penuh dengan keyakinan pada Sang Kholik dan keyakinan tersebut telah sempurna ketika mereka tahu bahwa Sang Kholiq tersebut bernama Alloh azza wajalla. Hati yang bersih nan makrifat melahirkan karomah atau sesuatu yang luar biasa daripadanya, sehingga muncul ucapan-ucapan para sepuh “kolot baheula mah saciduh metu saucap nyata” maksudnya para sepuh zaman dahulu itu apa-apa yang diucapkan itu selalu menjadi kenyataan, malah menjadi du’a. Maka tidak heranlah kita senantiasa meminta du’a dan ngalap berkah pada tetua kita, karena hati mereka bersih nan suci penuh dengan keberkahan. Sebagaìmana yang disabdakan Rosululloh saw ” albarkatu ma’a akaabirikum ” yang artinya wallohu a’lam sesungguhnya keberkahan itu ada pada tetuamu(HR. Al Hakim).

Dalam bidang seni budaya dan sastera, Pangeran Santri dan segenap ulama beserta santri-santrinya mengajarkan tata cara baca tulis Al Qur’an sehingga masyarakat mengenal huruf pegon atau huruf Arab gundul. Buku-buku kuno peninggalan para pujangga dan resi disalin ke dalam tulisan pegon, seperti wawacan, sasakal, cacandran, uga atau wangsit dan lain-lain. Selain itu, Pangeran Santri menterjemahkan sastera-sastera pedalangan berbahasa Jawa ke dalam bahasa Sunda, seperti kakawe, nyandra, suluk dan sebagainya. Sumber lain menjelaskan bahwa Pangeran Santri mentransfer wayang golek ke dalam wayang cepak dari mulai bentuk, warna dan karakteristik dilengkapi dengan nilai-nilai keislaman. Sebagian buku-buku sastra tersebut sampai sekarang masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun.
Selain itu, salahsatu kesenian yang dikembangkan Pangeran Santri diantaranya adalah Gembyung, di Banten disebut Terebang. Orang Sumedang menyebut seni shalawat. Sejak masi inilah kesenian Gembyung tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Sumedang. Kerajaan Sumedang Larang pada masa itu menjadi sebuah kerajaan yang kaya akan sastera dan budaya.

Menjelang akhir tahun 1579, tentara Surasowan Banten yang dipimpin Ki Jungju merebut istana Pajajaran. Tahta nobat (=alas duduk) yang disebut Sriman Sriwacana dibawa ke Banten oleh pasukan ki Jungju. Sampai sekarang ada di Banten dan dikenal sebagai “watu gigiling”. Dengan demikian Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi menobatkan rajanya. Namun, Prabu Suryakencana bersama 4 Kandagalantenya berhasil meloloskan diri dan menyelamatkan mahkota binoksari, lambang kebesaran Pajajaran kemudian sembunyi di Pulosari.
Runtuhnya Pajajaran tersebut pada tanggal 14 shafar tahun Jim Akhir 1579 bertepatan dengan tanggal 22 April 1579. Tanggal inilah yang dijadikan dasar penentuan Hari Jadi Sumedang.
Setelah Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun tahta kerajaan diteruskan oleh Pangeran Angkawijaya dengan gelar Prabu Geusan Ulun.
Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun dimakamkan di Gunung Ciung, Pasarean Gede, kelurahan Kota Kulon, Sumedang Selatan (belakang BNI ’46).

PRABU GEUSAN ULUN (1579-1601)

Setelah runtuhnya Pajajaran pada akhir tahun 1579, Prabu Suryakencana yang berhasil meloloskan diri dan menyelamatkan mahkota binokrasinya menyuruh 4 kandagalantenya yang bersamanya lolos dari kepungan tentara Surasowan, Banten untuk menyerahkan mahkotanya itu kepada penguasa Sumedang Larang yang waktu itu dipegang oleh Pangeran Angkawijaya. Merekapun langsung menuju Sumedang Larang dan segera menyerahkan mahkota mas binokrasi tersebut pada Pangeran Angkawijaya. Menurut salah satu cerita rakyat Sumedang, mereka adalah kakak beradik sekandung. Keempat kandaga lante tersebut adalah:
1. Sanghiang Hawu(Sayang Hawu)
2. Batara Dipati Wiradidjaya(Nanganan)
3. Sanghiang Kondanghapa
4. Batara Pancar Buana Terong Peot
Mereka berempat tidak kembali ke Pakuan Pajajaran yang memang telah sirna tetapi terus berbakti “geusan ulun kumawula” maksudnya hendak mengabdi kepada Sumedang Larang. Penyerahan mahkota di atas pada hakekatnya berarti bahwa Sumedang Larang menjadi penerus kerajaan Sumedang Larang. Selanjutnya, Pangeran Angkawijaya dinobatkan menjadi Raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun.

Dari rakyat Pakuan Pajajaran yang sedang bubar buyar mancawura, Prabu Geusan Ulun berhasil mengumpulkan kembali sebanyak 44 kepala rakyat yang terdiri dari 26 kandaga lante dan 18 umbul dengan cacah sebanyak -+ 9000 umpi. Dengan demikian dapat disusun kembali kekuasaan baru yaitu keprabuan Sumedang Larang dengan narendra Prabu Geusan Ulun. Pada saat itulah Prabu Geusan Ulun memproklamirkan keprabuan Sumedang Larang dengan Kutamaya ditetapkan sebagai

ibu kota kerajaan.

Perselisihan Sumedang Larang Dengan Cirebon

Prabu Geusan Ulun maklum bahwa pusat agama Islam di bumi Parahiangan adalah Cirebon. Sebab itu, beliau pergi ke Cirebon dikawal oleh kandagalantenya, dengan tujuan politis, tidak lain adalah untuk memberikan legitimasi bahwa Cirebon sebagai pusat syiar Islam terbesar di tatar Sunda. Rombongan pengagung Sumedang Larang ditempatkan di Pakungwati. Di sanalah Prabu Geusan Ulun bertemu dengan Ratu Harisbaya, ìsteri Pangeran Girilaya Cirebon. Sebenarnya ini kali kedua pertemuan Prabu Geusan Ulun dengan Ratu Harisbaya setelah bertahun-tahun lamanya mereka dipisahkan.
Kira-kira tahun 1578, ketika Pangeran Angkawijaya berusia 21 tahun, beliau diperintah ayahnya pergi ke Pajang untuk memperdalam agama Islam, sambil menunggu waktu penobatan, karena persyaratan untuk menjadi raja minimal 22 tahun. Pajang pada masi itu adalah sebagai pusat penyebaran agama Islam. Disanalah Pangeran Angkawijaya yang berparas tampan nan rupawan bertemu dengan Puteri muslim berparas cantik jelita bernama Harisbaya trah raja Pajang Madura.

Pertemuan sepasang insan adam itu menorehkan perasaan yang demikian mendalam. Ketika dua hati saling bergetar lahirlah cinta dan kasih sayang dari lubuk hati yang paling dalam. Dari titik inilah Pangeran Angkawijaya dengan Harisbaya menyatukan perasaan, pikiran dan cita-cita untuk saling mengerti, memahami dan menghayati tentang hakekat kesucian cintanya. Konsepsi cinta yang jelas terarah, terencana dan matang mengukuhkan ikrar/janji sehidup semati. Bagi Pangeran Angkawijaya baru pertama kali menemukan arti cinta yang demikian mendalam. Pesantren Pajang baginya telah menorehkan kisah cinta dalam batas yang wajar, lajimnya pertemuan dilakukan oleh kaum Muslimin. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain, cinta dan kasih sayang yang mereka kukuhkan dipisahkan keadaan yang memaksa, karena Harisbaya dijodohkan oleh Hadijaya dengan Pangeran Girilaya susuhunan Cirebon, perbedaan usia sangat mencolok membuat Pangeran Angkawijaya kecewa.

Segumpal keputusan menghadang alur pikiran Angkawijaya membuat terhuyung-huyung dalam kebimbangan. Satu-satunya jalan terbaik bagi dirinya adalah meninggalkan pesantren Pajang. Namun, bayangan wajah Harisbaya selalu menghantui dirinya, perlahan-lahan larut dalam renungan yang mendalam, sehingga Angkawijaya banyak merenung dan mengurung diri. Ratu Inten Dewata peka menyimak sikap puteranya yang sedang dilanda kerinduan. Agar puteranya tidak larut ke dalam keputusasaan, jalan yang terbaik menikahkan Pangeran Angkawijaya dengan Nyi Mas Gedeng Waru.
Kini pertemuan Pangeran Angkawijaya dan Ratu Harisbaya terulang kembali, namun pertemuan dengan keadaan yang sudah berbeda. Keduanya sudah berkeluarga, bahkan Ratu Harisbaya sendiri sedang mengandung 2 bulan, akan tetapi goresan kasih sayang pada masa lalu seakan merentangkan kembali harapan panjang. Itu sebabnya Harisbaya secara sembunyi-sembunyi melakukan pertemuan dengan Prabu Geusan Ulun. Pertemuan ini membuat Prabu Geusan Ulun gerah, karena akan mencurigakan pengagung Cirebon. Untuk menghindari kecurigaan, rombongan pengagung Sumedang Larang meninggalkan Pakungwati Cirebon. Saat itu juga, Ratu Harisbaya meloloskan diri dari Pakungwati Cirebon, mengejar rombongan Pengagung Sumedang Larang.

Ratu Harisbaya berhasil mengejar rombongan Pengagung Sumedang Larang dan membuat Prabu Geusan Ulun terkaget-kaget. Ratu Harisbaya mengungkapkan isi hatinya yang sudah lama terpendam. Rupanya meloloskan diri baginya adalah sebagai bentuk perlawanan moral terhadap perkawinan politik yang dirancang oleh ayahnya, dengan tujuan agar Cirebon berkiblat ke Mataram. Prabu Geusan Ulun menanggapinya dengan arif, namun hal ini dimanfaatkan oleh mbah Jayaperkosa(Sayang Hawu) untuk membalas kekalahan Pajajaran atas Cirebon, karena kekuatan Sumedang Larang akan mampu mengalahkan Cirebon. Oleh sebab itu, Jayaperkosa mempengaruhi Prabu Geusan Ulun agar memboyong Harisbaya ke Sumedang Larang.

Pendapat tersebut ditolak Dipati Wirajaya karena akan menimbulkan permusuhan Sumedang Larang dan Cirebon. Akan tetapi diplomasi Jayaperkosa sungguh-sungguh meluluhkan hati Prabu Geusan Ulun, akhirnya memenuhi permintaan Harisbaya untuk diboyong ke Sumedang Larang. Ketika itu, ratu Harisbaya sedang mengandung bayi berumur 2 bulan. Ratu Harisbaya ditempatkan di ruangan khusus dan dijaga ketat oleh Jagabaya.
Timbul pertanyaan, apakah Prabu Geusan Ulun tega menikah dengan Ratu Harisbaya dalam keadaan mengandung ? Mungkin hal itu terjadi, seperti dibicarakan oleh banyak orang, bahkan peristiwa tersebut melahirkan tuduhan bahwa Prabu Geusan Ulun adalah cacat sejarah. Suatu hal yang tidak mungkin seorang Raja Islam yang besar dan berbudi pekerti luhur menikahi perempuan yang mempunyai suami dalam keadaan mengandung. Sejahat-jahatnya Rahwana mengurung Dewi Sinta dalam kesendirian tidak berani merusak kehormatannya, karena cinta dan kasih sayang sejati mengalir dengan alami
dan memerlukan kesadaran, ketulusan hati dan menyesuaikan diri dengan keadaan.

Panembahan Girilaya Cirebon tentu saja tidak akan membiarkan isterinya jatuh ke tangan orang lain, walaupun hatinya sudah tercabik-cabik, tetapi berusaha mencerminkan seorang sultan yang arif bijaksana dan selalu berusaha mencari tahu tentang keberadaan isterinya. Juru telik sandi pun tersebar di setiap penjuru kota dan desa untuk mencari Ratu Harisbaya. Mereka menyamar sebagai pedagang terasi, ikan asin, tukang pindang bahkan banyak yang menyamar menjadi pengemis.

Mereka bergerak ke wilayah Sumedang Larang, sebagian kesasar di hutan-hutan, dì sana mereka menunggu matahari (ngadago), sehingga tempat tersebut diberi nama Pasir Dago. Sedangkan mereka yang menyamar pedagang pindang memasuki wilayah Kutamaya. Disanalah juru telik sandi menemukan Ratu Harisbaya pada saat sedang belanja pindang bersama embannya. Juru telik sandi pun bergegas ke Cirebon untuk melaporkan hasil penyelidikannya. Panembahan Girilaya marah besar karena merasa telah diperhinakan oleh Prabu Geusan Ulun. Untuk menebus kekecewaannya, beliau memerintahkan panglima perang agar menyiapkan pasukan untuk menyerbu keraton Sumedang Larang. Senopati Cirebon membawa pasukan ke daerah perbatasan Cilutung dan Cimanuk, disanalah wadyabalad Cirebon membuat kekacauan untuk memancing pasukan Sumedang Larang.

Keonaran melebar ke kawasan Darmawangi dan daerah sekitarnya, sehingga menimbulkan keresahan penduduk setempat. Berita kejadian tersebut sampai ke istana kotamadya. Jayaperkosa menyatakan tegas kepada seluruh pengagung Sumedang Larang sipa menghadapi Cirebon.

Geger Hanjuang

Jayaperkosa menyusun pasukan tempur. Sebelum berangkat ke medan perang, menanam pohon hanjuang di halaman istana kotamadya disaksikan oleh sejumlah pengagung Sumedang Larang. “Saumpama tangkal hanjuang layu, tandana Sumedang Larang kasoran yuda, saumpama tangkal hanjuang ngemploh hejo, tandana Sumedang Larang unggul jurit” (seandainya pohon hanjuang daunnya kering dan berguguran tandanya Sumedang Larang kalah perang, sebaliknya apabila pohon hanjuang tumbuh subur, tandanya Sumedang Larang unggul dalam peperangan).

Menjelang fajar tiba, Jayaperkosa membawa pasukan ke kawasan perbatasan sungai Cilutung. Dipati Wirajaya membawa pasukan ke daerah Sudapati dan Kondanghapa membawa pasukan ke daerah Darmawangi. Keadaan di sekitar tersebut makin genting dan akhirnya perang berkobar.

Pasukan Cirebon terdesak, kemudian menambah pasukan dengan jumlah yang besar didukung oleh pasukan Tegal Jawa Tengah, akhirnya pasukan Jayaperkosa tersedak. Munculah berita bahwa pasukan Jayaperkosa gugur, kemudian Dipatijaya dan Kondang Hapa menarik pasukan di wilayah kota, selanjutnya melaporkan kejadian kepada Prabu Geusan Ulun, bahwa pasukan Jayaperkosa gugur jurit, itu sebabnya Dipati Wirajaya menyarankan agar keraton dikosongkan sebelum tentara Cirebon menyerbu.

Semula laporan Dipati Wirajaya ditanggapi dengan sikap dinin, karena seluruh pengagung Sumedang Larang tidak melihat tanda-tanda Sumedang kalah dalam peperangan. Selain itu, pohon hanjuang yang ditanam oleh Jayaperkosa tumbuh subur(sampai sekarangpun masih tumbuh, berada di Kutamaya;Dsn. Panjaleran Desa Padasuka, Sumedang Utara), akan tetapi diplomasi Wirajaya sangat masuk akal, sehingga mempengaruhi pikiran pengagung Sumedang Larang untuk segera mengungsi. Prabu Geusan Ulun akhirnya mengosongkan keraton dan mengungsi ke gunung Rengganis atau Dayeuh Luhur (dayeuh=kota; luhur=tinggi) sekarang berada di kawasan kecamatan Ganeas.

Sementara Jayaperkosa menarik pasukan ke kota, terkejutlah setelah keraton Kutamaya dikosongkan oleh seluruh pengagung Sumedang Larang membuat Jayaperkosa kecewa berat. Kemudian mencari tahu kepada penduduk. Pada saat berada di daerah Baginda, Jayaperkosa mendapat keterangan dari seorang penduduk bahwa pengagung Sumedang mengungsi di Dayeuh Luhur. Jayaperkosa mendatangi daerah tersebut, namun disambut oleh siaga perang, membuat Jayaperkosa terheran-heran, kemudian mengecam seluruh pengagung Sumedang Larang berkhianat. Kecaman itu sangat menyinggung perasaan Prabu Geusan Ulun, kemudian menyuruh bawahannya untuk menangkap Jayaperkosa.

Pertarungan berlangsung seru, tetapi Dipati Wirajaya, Pancarbuana dan Nanganan terdesak, ketika hendak dibunuh meloloskan tegal arung, kemudian Dipati Wirajaya bersembunyi di daerah Paniis. Sedangkan Pancarbuana meloloskan diri ke daerah Nangtung dan Kondang Hapa bersembunyi di hutan belantara.
Mbah Jayaperkosa sendiri menuju ke Kabuyutan yang letaknya tidak jauh dari sana. Sebelum wafat, dia berpesan bahwa jika dia meninggal dunia agar mayatnya dikubur dengan sikap duduk supaya kepalanya tidak mengarah ke tempat siapapun juga, tetapi menghadap ke kabuyutan. Rupanya pesan ini dilaksanakan. Makam mbah Jayaperkosa lain dari yang lain berbentuk bulat dengan satu tetengger batu di tengah.

Perselisihan Sumedang Larang-Cirebon sampai juga ke Istana Kesultanan
Mataram, karena Panembahan Girilaya mengirimkan surat kepada Sinuhun Mataram untuk mohon pertimbangannya. Sultan Hadiwijaya menyarankan agar menempuh jalan hukum Islam. Ratu Harisbaya telah nusyuz dan sebaiknya dibeli saja talaknya oleh Prabu Geusan Ulun. Panembahan Girilaya pun mengirim utusan ke Sumedang Larang sesuai dengan saran Susuhunan Mataram. Prabu Geusan Ulun menerimanya, maka masalah Ratu Harisbaya diselesaikan secara musyawarah dan mufakat. Panembahan Girilaya mencerai Ratu Harisbaya dan talak Ratu Harisbaya dibeli oleh Prabu Geusan Ulun, tetapi tidak dibayar dengan uang melainkan dengan daerah yaitu daerah Sindangkasih(Majalengka sekarang). Sejak itu Majalengka termasuk wilayah Cirebon. Hubungan Sumedang Larang-Cirebon pun rukun kembali.

Wilayah Sumedang Larang pada masa Prabu Geusan Ulun meliputi Kuningan, Bandung, Parakanmuncang, Garut, Sukapura dan Sukabumi. Dalam fase ini Sumedang Larang berjumlah 9000 jiwa, tersebar di 40 daerah, setiap daerah dipimpin oleh seorang Kandagalante atau kepala daerah.
Prabu Geusan Ulun melakukan invasi ke belahan timur, namun tidak berhasil menguasai wilayah Pajajaran, karena sebagian daerah tersebut telah direbut oleh Mataram.

Dari pernikahannya dengan Nyi Mas Gedengwaru, Prabu Geusan Ulun mempunyai 13 putera dan puteri, yaitu:
1. Pangeran Ranggagede
2. Rd. Ariya Wiraredja
3. Rd. Rangga Petrakelasa
4. Rd. Ariya Radjapatri
5. Nyi Mas Ngabehi Watang
6. Nyi Mas Demang Tjipaku
7. Nyi Mas Mertayuda
8. Nyi Mas Rangga Pamande
9. Nyi Mas
Rangga Wiratma
10. Nyi Mas Rangga Nitinagara
11. Nyi Mas Dipati Ukur
12. Dipati Kusumayuda
13. Tumenggung Tegalkalong

Dari Ratu Harisbaya mempunyai satu orang putera, yaitu Rd. Kartajiwa. Sementara putera Ratu Harisbaya dengan Panembahan Girilaya bernama Pangeran Suriadiwangsa yang kelak menjadi penerus Prabu Geusan Ulun.

Sedangkan dari Nyi Mas Pasarean, Prabu Geusan Ulun mempunyai satu putera yang bernama Kyai Demang Tjipaku.

Prabu Geusan Ulun wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Dayeuh Luhur, demikian juga makam Ratu Harisbaya. Setelah itu, tahta kerajaan Sumedang Larang dilanjutkan oleh Pangeran Suriadiwangsa (putera Ratu Harisbaya dengan Panembahan Girilaya, namun sudah dianggap seperti anak kandung sendiri).
Pada masa Pangeran Suriadiwangsa, tersiar berita bahwa raja-raja di Jawa ramai-ramai menyerahkan diri ke Mataram untuk menjadi bawahannya. Demikian juga Pangeran Suriadiwangsa akhirnya secara suka rela datang ke Mataram untuk memohon
agar Sumedang menjadi bagian Mataram, sultan Agungpun merasa gembira dan langsung mengangkat Pangeran Suriadiwangsa sebagai bupati merangkap bupati wedana atas wilayah Mataram bagian barat yang meliputi seluruh Jawa Barat kecuali Cirebon dan Banten. Sejak saat itulah sistem pemerintahan Sumedang Larang berubah menjadi Kabupatian/kabupaten dengan pemimpin berpangkat bupati.

Sumber: kesemua artikel Sejarah Sumedang ini (1, 2 dan 3) bersumber dari:

> Riwayat Hidup Raja-Raja Sumedang, WD. Dharmawan Ider Alam

>Naskah Sejarah Kabupatian I Bhumi Sumedang
1550-1950, Drs. Bayu Surianingrat.

Sejarah Sumedang (2)

KEPRABUAN SUMEDANG LARANG

Sejak awal berdirinya Kerajaan Sumedang Larang(-+1500),senantiasa dipimpin oleh seorang raja secara turun temurun dengan gelar prabu.Namun,memasuki akhir abad ke-16 kemunculan Kesultanan Mataram sebagai kerajaan Islam terbesar di pulau Jawa berdampak besar pada perubahan di berbagai sektor kehidupan.Dalam bidang pemerintahanpun,sistem pemerintahan kerajaan Sumedang Larang yang mulanya keprabuan berubah menjadi kebupatian(kabupaten).Pangkat raja turun menjadi bupati/wedana.
Prabu Geusan Ulun adalah raja terakhir yang bergelar prabu dan dengan lengsernya Prabu Geusan Ulun(1601 M),maka berakhir pula masa keprabuan Sumedang Larang,karena setelah itu Sumedang Larang berada di bawah kekuasaan Mataram dengan pemimpinnya berpangkat bupati/wedana.

Prabu Adji Putih

Prabu Adji Putih(Resi Agung Cakrabuana)merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Sumedang Larang.Beliau mendirikan kerajaan Tembong Agung dengan pusat pemerintahan di kampung Muhara Desa Leuwihideung kecamatan Daramaraja.Kerajaan inilah yang kelak diganti namanya oleh Prabu Tadjimalela menjadi kerajaan Sudang Larang(Sumedang Larang).

Pernikahannya dengan Dewi Nawang Wulan melahirkan empat orang putera,yaitu:Bratakusumah/Tadjimalela,Sokawayana,Harisdarma dan Langlangbuana.
Pada masa pemerintahannya,beliau membangun sistem pemerintahan keprabuan yang melibatkan rakyat terutama dalam mengambil keputusan.

Prabu Adji Putih menyatukan dusun-dusun yang tersebar di daerah kaki gunung Mandalasakti(Cakrabuana),gunung Sanghyang,gunung Penuh(Sindangkasih),gunung Simpay,gunung Jagat,gunung Langlangbuana,gunung Nurmala,gunung Rengganis,gunung Geulis,gunung Tampomas,daerah-daerah yang tersebar di bagian utara gunung Pareugreug dan gunung Julang.

Pada saat terang bulan tahun Sangkakala Margajayj,Prabu Adji Putih menyerahkan kekuasaannya pada Bratakusumah(prabu Tadjimalela).Setelah itu menjadi resi dan menyebrangi daratan Teluk Persi menuju negeri Mekah.Beliau telah lama mendengar agama Islam yang disebarkan Nabi Muhammad saw.Selain itu beliau mendapat keterangan dari leluhurnya yaitu “hiji waktu jalan kaarifan molompong ti panto Mekah nepi ka pulo tutung,jalma antay-antayan nareangan kaarifan,tapi teu nyaho nu disebut arif”(Suatu saat jalan kearifan membujur dari pintu Mekah sampai ke pulau hitam,barisan manusia mencari kearifan,tetapi mereka tidak tahu apa yang disebut arif).Selanjutnya,beliau belajar agama kepada syekh Ali di Baghdad(Irak)mempelajari Al Qur’an dan memperdalam ilmu tauhid.Kemuian menunaikan ibadah haji dengan gelar Prabu Guru Haji Adji Putih atau Haji Purwa Sumedang(orang yang pertama kali naik haji di Sumedang Larang).

Sekembalinya di Sumedang,Prabu Adji Putih mendapat perintah dari gurunya untuk membangun mesjid jami dan tempat-tempat wudlu.Beliau mendirikannya di sekitar kaki gunung Nurmala,Darmaraja namun gagal karena ditentang penduduk setempat.Untuk mengenangnya,tempat itu diberi nama gunung Masigit.Meski gagal,tetapi semangatnya terus berpacu,sehingga dibuatlah tempat wudlu ditujuh tempat sumber mata air disebut ciwudlu tujuh muara.Tempat-tempat wudlu itu diberi nama “Cikahurifan” dibuat di kaki gunung Nurmala, “Cikajayaan” dibuat di Paniis,Cieunteung,Darmaraja, “Cikawedukan” dibuat di Cicanting, “Cikatimbulan” dibuat di kamgung Cibuah, “Cisundajaya” dibuat di Tanjung Siang(Subang), “Cimaraja” dibuat di Leuwihideung, dan “Cileumahtama” dibuat di Cipeueut.Sejak saat itulah prinsip-prinsip Islam melebur dalam keyakinan agama nenek moyang.Masyarakat lebih mengenal Gusti Alloh dan Pangeran daripada Sanghyang Widi, Sanghyang Niskala, Sanghyang Murbeng dan dewa-dewa mulai bergeser pada keyakinan adanya malaikat-malaikat disebut makhluk langit. Namun,kepercayaan terhadap roh-roh para leluhur marih dipertahankan,tetapi pada prakteknya sangat berbeda. Jadi, Prabu Adji Putihlah orang yang mula-mula mengenalkan agama Islam di Sumedang Larang dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri. Pada masa pemerintahannya agama Islam mulai dianut keluarga dan kerabat kerajaan.

Menjelang akhir hayatnya, Prabu Adji Putih menyempurnakan ilmunya di Cipeueut hingga meninggal dunia. Dimakamkan di Pajaratan Landeuh, Cipeueut Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja.

Prabu Tadjimalela

Telah dikemukakan di atas bahwasannya kekuasaan Sumedang Larang diserahkan Prabu Adji Putih kepada putera tertuanya, Bratakusumah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Prabu Tadjimalela.
Sebelum menjadi raja, Bratakusumah berguru selama bertahun-tahun kepada Resi Cakra Sakti yang bermukim di Cakrabuana. Suatu waktu, beliau diperintahkan bertapa di gunung Nurmala selama 21 hari dan 21 malam. Di sanalah melakukan perjalanan spiritual menembus alam gaib. Pada malam ke-7, segumpal sinar turun dari langit melingkar-lingkar di atas gunung menyerupai ulekan ujungnya sangat tajam, perlahan-lahan berubah menyerupai selendang, lalu menukik tajam ke petapaan gunung Nurmala.
Bratakusumah berkata kepada pengawalnya “Tadji Malela” (Tadji=tajam; Malela=selendang). Kuntawisesa dan Purwawisesa pengawal setia menyebut Bratakusumah dengan julukan Tadjimalela.
Malam ke-21, segumpal sinar merah penjelmaan Dewi Agni turun ke bumi, berputar-putar di atas gunung, menukik disekitar pertapaan. Gumpalan sinar menyembur ke setiap arah hingga petapaan terang-terangan. Bratakusumah berkata kepada pengawalnya “Insun Medangan Larang Tapa” (Aku melihat cahaya terang benderang di petapaan yaitu tempat yang syarat dengan tantangan dan pantrangan).

Hari ke-21 Bratakusumah dipanggil oleh ayahnya, kemudian pada saat terang bulan dinobatkan menjadi Pemangku Kerajaan Tembong Agung dengan gelar Prabu Tadjimalela. Menikah dengan Kencana Wulung putri Adinata dari Permaisuri Sari Ningrum, selanjutnya mengganti nama kerajaan menjadi Sudang Larang/Sumedang Larang(dari kata insun medangan larang tapa). Di awal kekuasaannya mengangkat pejabat-pejabat kerajaan dari lingkungan keluarga. Kedudukan patih dijabat oleh pamannya sendiri yaitu Astajiwa dan sejumlah menterinya terdiri dari saudara-saudaranya. Sokawayana menjadi penghulu daerah sekitar Gunung Tampomas, Harisdarma menjadi penghulu daerah sekitar Gunung Haruman(Garut). Sedangkan Langlangbuana menjadi penghulu di daerah Lemah Putih kemudian menjadi pengabdi Kerajaan Galuh.
Pembagian tugas memperlihatkan sistem yang dibangun Prabu Tadjimalela adalah sistem monarkhi konstitusional. Pemerintahan yang paling rendah adalah dukuh(desa) dijabat oleh petinggi, kedudukannya sebagai pemimpin desa.

Pernikahannya dengan Kencana Wulung melahirkan 3 orang putera, yaitu Jayabrata, Atmabrata dan Mariajaya. Pada saat bulan gelap lengser keprabon dan menyerahkan kekuasaannya kepada Jayabrata(Lembu Agung)kemudian menjadi resi dengan gelar Resi Bratakusumah, Resì Darmawisesa, Resi Pancarbuana dan Resi Tungtangbuana. Dipenghujung usianya menyempurnakah ilmunya di daerah Paniis hingga meninggal dunia. Dimakamkan di Paniis Desa Cieunteung Kecamatan Darmaraja.

Prabu Lembu Agung

Pemangku kerajaan Sumedang Larang selanjutnya yaitu Jayabrata atau Prabu Lembu Agung. Sebenarnya, Prabu Tadjimalela kebingungan kepada siapa beliau hendak mewariskan tahta kerajaan, karena Jayabrata dan Atmabrata sama-sama mempunyai hak menerima tahta kerajaan. Sementara Jayabrata dipandang kurang cerdas, tidak memiliki bakat kepemimpinan, malah lebih suka mendalami ilmu ketauhidan. Sedangkan Atmabrata lebih suka mempelajari ilmu kepemimpinan dan sejarah.
Prabu Tadjimalela akhirnya memerintahkan keduanya agar bertapa di Gunung Sangkan Jaya selama 40 hari 40 malam dengan syarat membawa sarana ritual berupa kelapa muda(dewegan). Setelah selesai bertapa kelapa harus dibelah. Apabila kelapa itu kering atau tidak berair, berarti tidak memiliki hak menjadi raja, sebaliknya kelapa itu berair tandanya memiliki hak menjadi raja Sumedang Larang. Setelah mendapat nasehat, mereka menuju Gunung Sangkanjaya. Selesai bertapa masing-masing membelah kelapa oleh pedang kamkam pusaka kebesaran Prabu Guru Adji Putih. Kelapa milik Jayabrata tidak berair,sedangkan kelapa Atmabrata mengandung air. Menandakan Jayabrata tidak memiliki hak menjadi raja. Sementara Atmabrata tidak menerima kenyataa itu, karena saudara tua yang berhak menjadi raja, selain tidak menghendaki terjadinya perubahan pergantian raja.Apabila mengubah tradisi pergantian raja akan menimbulkan pertumpahan darah. Jayabrata berpandangan lain,yaitu menentang sabda raja adalah hukuman. Namun, akhirnya Prabu Tadjimalela melalui perundingan dengan keduanya memutuskan mau tidak mau, suka tidak suka Jayabrata harus menerima tahta kerajaan. Jayabratapun menerima keputusan ayahnya dengan ucapan Darma Ngarajaan(sekedar raja). Perkataan Jayabrata ini menjadi nama sebuah kota yang dikenal Darmaraja.
Pada saat gelap bulan, dinobatkanlah Jayabrata menjadi pemangku kerajaan Sumedang Larang dengan gelar Prabu Lembu Agung. Beliau menikah dengan Banon Pujasari putri Hidayat dari Sari Fatimah cucu Harisdarma.

Untuk mengatasi pengaruh politik yang timbul dari dalam maupun luar, beliau mengadakan penguatan integritas penduduk-penduduk perkotaan dan penduduk dusun-dusun yang tersebar di wilayah-wilayah Sumedang Larang. Golongan keturunan rada dan golongan resi merupakan bagian yang sangat berpengaruh di tengah-tengah kehidupan rakyatnya. Resi mempunyai kedudukan yang tinggi dalam keagamaan.

Prabu Lembu Agung banyak membangun sarana peribadatan dan mengembangkan kebudayaan.
Prabu Lembu Agung menyerahkan tahta kerajaan kepada Atmabrata(prabu Gajah Agung). Setelah itu menjadi resi dan menyebarkan agama di daerah sekitar Gunung Sanghyang, Rengganis, gunung Nurtmala dan berakhir di Mandala Kawikan(Karang Kawitan)hingga meninggal dunia,dimakamkan di Astanagede.

Prabu Gajah Agung

Setelah Prabu Lembu Agung lengser keprabon, kerajaan Sumedang Larang diteruskan oleh adiknya, Atmabrata yang lebih dikenal dengan nama Prabu Gajah Agung.DI awal kekuasaannya, Prabu Gajah Agung memindahkan keraton dari Leuwihideung ke daerah Cìgulìng,desa Pasangrahan kecamatan Sumedang Selatan.
Dari pernikahannya dengan Sariningrum, Prabu Gajah mempunyai 2 orang putera, yaitu Ratu Isteri Rajamantri yang menikah dengan prabu Silihwangì,tidak menjadi ratu karena diboyong suami ke Pakuan Pajajaran.Dan yang kedua yaitu Manggala Wirajaya/Jagabaya/Prabu Pagulingan. Setelah lengser keprabon menjadi resi dan kekuasaan Sumedang Larang diteruskan oleh puteranya,yaitu prabu Pagulingan.
Prabu Gajah Agung wafat dan dimakamkan di Cicanting desa Cisurat kecamatan Wado,sumber lain mengatakan di desa Sukamenak kecamatan Darmaraja.

Setelah Prabu Pagulingan, tahta kerajaan diteruskan oleh puteranya,yaitu Sunan Guling. Sunan Guling diganti oleh putranya bernama Sunan Tuakan yang wafat dan dimakamkan di Heubeul Isuk, desa Cinanggerang, kecamatan Sumedang Selatan. Ia diganti oleh puterinya bernama Nyi Mas Ratu Istri Patuakan yang menikah dengan Sunan Corenda(Sonda Sanjaya putera Jaka Puspa dari ìsteri Mayang Karuna atau cucu Prabu Jaya Deata Sribaduga Maharaja/ Prabu Siliwangi I).
Nyi Mas Ratu Istri Patuakan diganti oleh Nyi Mas Ratu Inten Dewata, yang setelah menjadi ratu Sumedang Larang memakai gelar Ratu Pucuk Umun. Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Santri dari Cirebon, seorang Pangeran ulama agama Islam. Pada saat inilah agama Islam berkembang pesat di wilayah Sumedang. Sementara kekuatan dan kekuasaan Pajajaran sudah sangat menurun dan tidak terasa di daerah serta tidak tampak lagi di Sumedang Larang yang terletak cukup jauh dari Pakuan Pajajaran. Dengn demikian kerajaan Sumedang Larang praktis merupakan kerajaan penuh, dan secara “de facto” Sumedang Larang adalah kerajaan yang merdeka.

(bersambung)

Sejarah Sumedang (1)

KERAJAAN SUMEDANG LARANG

Kerajaan Sumedang Larang adalah salahsatu dari berbagai kerajaan Sunda yang ada di Prov. Jawa Barat,Indonesia.Meski tersimpul nama “Sumedang”namun tidak berarti bahwa Sumedang Larang sama dengan atau serupa dengan Sumedang.Sumedang Larang adalah nama suatu kerajaan,sedangkan Sumedang adalah nama negara induk,suatu kabupatian inti kerajaan Sumedang Larang.Jadi,kerajaan Sumedang Larang mencakup Pamanukan,Indramayu,Sukapura,Bandung,Parakan Muncang,dsb. Pada abad ke-16 zaman jayanya kerajaan Pakuan Pajajaran,Sumedang Larang merupakan kerajaan daerah atau kerajaan bawahan.Kemudian -+1575 menjadi kerajaan yang merdeka secara “de facto”karena kekuasaan kerajaan Pajajaran sudah tidak nampak lagi di Sumedang Larang.

Asal Mula Nama

Mulanya kerajaan ini merupakan padepokan Tembong Agung(Tembong=nampak; Agung=luhur)yang didirikan Sanghyang Resi Agung(Aria Bima Raksa) di kampung Muahara,Leuwihideung,Darmaraja.Di sinilah beliau mempersiapkan Adji Putih,puteranya untuk menjadi pemimpin yang tangguh.

Kehadiran padepokan Tembong Agung dapat mendorong terhadap perkembangan keagamaan&kebudayaan,secara perlahan padepokan tersebut menjadi pusat penyebaran agama&budaya Sunda.Dalam perkembangannya menjadi kerajaan Tembong Agung,didirikan oleh Prabu Guru Adji Putih pada saat purnama bulan Muharram,dengan menobatkan Adji Putih sebagai pemangku kerajaan Tembong Agung(pada abad ke-XII).
Beliau menikah dengan Dewi Nawang Wulan(keturunan kerajaan Galuh)dan dikaruniai 4 putera,yaitu:Bratakusumah,Sokawayana,Harisdarma dan Langlangbuana.

Ketika Bratakusumah disuruh ayahnya bertapa di gunung Nurmala selama 21 hari 21 malam,pada malam ke-21 beliau melihat segumpal sinar turun ke bumi,berputar-putar di atas gunung,menukik di sekitar pertapaan.Gumpalan sinar menyembur ke setiap arah hingga pertapaan terang benderang.Bratakusumah berkata pada pengawalnya:”insun medangan larang tapa”(aku melihat cahaya terang benderang di petapaan).
Pada hari k-21,Bratakusumah dipanggil ayahnya dan pada saat terang bulan dinobatkan menjadi Pemangku Kerajaan Tembong Agung dengan gelar Prabu Tadjimalela.
Beliau mengganti nama kerajaan menjadi Sudang Larang(dari kata insun medangan larang tapa) yang akhirnya hingga kini pengucapannya menjadi Sumedang.

Pada acara haol para ulama/sesepuh Kaum,SMD tahun 2006,
KH.Muhyiddin AQA MA berkata bahwa Sumedang berasal dari kata”shomadan”(salahsatu asmaul husna),artinya yang dibutuhkan(tempat meminta).

Alqur’anul karim sumber hukum bagi kita,umat Islam merupakan penyempurna daripada kitab-kitab terdahulu,yg mana makna yg terdapat dalam kitab2 tsb semuanya terangkum dalam Alqur’an.Dan makna Alqur’an yg berisi 30 juz,114 surat dan 6666 ayat,semuanya terangkum dalam satu surat,yaitu surat Al Fatihah.Sebab itu,surat Al Fatihah disebut juga ummul qur’an atau ummul kitab.
Makna surat Al Fatihah semuanya terangkum dalam ayat bismillahirrohmanirrohim. Dan makna bismillahirrohmanirrohim tersimpan pada “ba”nya lafaz bismillah,yaitu bii kaana maa kaana wa bii yakuunu maa yakuunu(atas kudrot&irodatKUlah telah adanya semua perkara yg telah ada dan atas kudrot&irodatKUlah akan adanya semua perkara yg akan ada). Sebagian ulama menambahkan bahwa makna “ba” tersimpan pada titiknya. Titik tsb mengisyarahkansifat wahdaniyat(esa)nya Alloh swt. Dialah Alloh yang esa dzatNYa,sifatNYa maupun af’alNYa.

Di bawah saya tuliskan makna global surat Alfatihah yg ditukil dari kitab Tafsir Munir, Imam Nawawi Al Bantani s: 2-3
Bismillahirrohmanirrohim…
Qur’an surat Al Fatihah(pembukaan)ialah surat pertama,termasuk surat Makiyyah(surat yg diturunkan di Mekah sebelum hijrah)sebagian ulama berkata termasuk surat Madaniyyah(surat yg diturunkan di Madinah setelah hijrah),terdiri dari 7 ayat dan ayat yg k-7 ialah “shirootholladziina an’amta ‘alaiHim…”dst apabila menggolongkan basmallah sebagai bagian ayat surat Alfatihah.Jika tidak,maka ayat yg k-7nya ialah “ghoiril maghdluubi ‘alaiHim waladldloolliin”.

Surat Al Fatihah meliputi 4 macam ilmu,antara lain:

1. Ilmu Ushul. Dikumpulkan sifat2 uluhiyat dlm ayat “alhamdulillaHirobbil ‘aalamiin arrohmaanirrohiim”. Dikumpulkan sifat2 nubuwat dlm lafaz “alladziina an’amta ‘alaiHim”
Dan dikumpulkan pula masalah2 darul akhiroh dalam ayat “maaliki yaumiddiin”
2. Ilmu Furu’.Yg teragung masalah ibadah,mencakup maliyah&badaniyah.Keduanya tentu membutuhkan perkara2 yg berkaitan dlm kehidupan,seperti muamalat dan munakahat yg tidak boleh tidak mesti ada hukum aturannya,berupa perintah&larangan.
3. Ilmu Tahsilul Kamalat.Yaitu ilmu akhlak,seperti isiqomah pada toriqoh(jalan menuju wushul ilalloh).Hal ini diisyaratkan firman Alloh “waiyyaaka nasta’iin”Dan terkumpul semua syari’at dlm lafaz “shiroothol mustaqiim”
4. Ilmu Qosos&Akhbar.Yakni kisah2 umat terdahulu.Terkumpul kisah orang2 bahagia(anbiya dll)dlm lafaz “alladziina an’amta ‘alaiHim” dan orang2 celaka(kafirin)dlm lafaz “ghoiril maghdluubi ‘alaiHim waladldloolliin”.

Peradangan pada hati(liver)umumnya disebut “Hepatitis” dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati(liver). Penyakit hepatitis dapat disebabkan oleh berbagai macam,mulai dari virus sampai dengan obat-obatan,termasuk obat tradisional.

Penyakit hepatitis sering ditandai dengan kulit dan bagian putih mata yang berwarna kekuningan. Oleh karena itu penyakit hepatitis sering disebut PENYAKIT KUNING. Penyakit kuning biasanya berhubungan pada kelainanan pada hati,darah,atau limpa.

Terdapat beberapa jenis penyakit hepatitis,yaitu hepatitis A,hepatitis B,C,D,E,F dan G. Penampilan penyakit hepatitis akibat virus bisa akut(hepatitis A) dapat pula kronik(hepatitis B,C) dan adapula yang kemudian menjadi kanker hati(hepatitìs B dan C).

Pada tulisan ini,kami hanya memaparkan penyakit hepatitis type virus A dan B saja.

Penyakit hepatitis A seringkali didapatkan pada anak-anak dan tidak menimbulkan gejala,sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu,rasa lelah,demam,diare,mual,nyeri perut,mata kuning dan hilangnya nafsu makan. Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Orang yang terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut dan tidak berlanjut menjadi kronik. Penularan bisa terjadi melalui makanan atau minuman yang tercemar kotoran penderita,misalnya makan buah-buahan,sayuran yang tidak dimasak atau makan kerang setengah matang. Minum dengan es batu yang prosesnya tercemar.

Penyakit Hepatitis B memiliki gejala mirip hepatitis A,mirip flu,yaitu hilangnya nafsu makan,mual,muntah,rasa lelah,mata kuning dan muntah serta demam. Penularan dapat melalui jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi,transfusi darah dan gigitan manusia.

Saat ini banyak dikembangkan imunisasi untuk mencegah terjangkitnya penyakit hepatitis. Namun langkah pencegahan yang paling ampuh untuk mencegah hepatitis adalah dengan melaksanakan hidup bersih dan sehat, makan makanan yang bersi dan tidak tercemar, cuci tangan sebelum dan sesudah makan.

Suwmber: Buku Pegangan Penanggulangan Penyakit,cet 1. Farid W.Husain,dkk

Anemia adalah suatu kondisi turunnya kadar sel darah merah(hemoglobin)dalam darah yg normal pada wanita sekitar 12 mg/dl dan 14 mg/dl pada laki-laki. Berkurangnya sel darah merah berfungsi sebagai sarana transportasi zat gizi dan oksigen yg diperlukan jaringan tubuh.

Berkurangnya sel darah merah dapat terjadi akibat keadaan berkurangnya asupan gizi,terutama zat gizi,dll.

Apakah Gejala Anemia?

Gejala awal anemia kurang zat besi adalah keluhan badan lemah,lelah,kurang energi,kurang nafsu makan,daya konsentrasi menurun,sakit kepala,pandangan sering berkunang-kunang terutama dari keadaan duduk kemudian berdiri.
Tanda lainnya adalah kelopak mata,wajah,ujung jari dan bibir biasanya tampak pucat.

Bagaimana Mencegah Anemia?

Pencegahan yg terbaik adalah sebelum terjadi anemia,yaitu dengan menjaga agar dalam tubuh tersedia cukup zat besi untuk pembentukan sel darah.

Zat besi banyak dikandung dalam makanan,baik hewan,sayuran dan buah-buahan,seperti: hati,daging,telur,ikan,kentang,beras merah,kacang-kacangan,apel,jambu,pepaya,dan lain lain. Keseimbangan asupan gizi sangat diperlukan untuk menjaga agar tidak terkena anemia.

So,
CEGAH ANEMIA DENGAN:

> Makan
makanan yang
bergizi
> Lakukan
pemeriksaan
kehamilan
secara teratur
> Terapkan
perilaku hidup
bersih dan
sehat.

Sumber: Buku Pegangan Penanggulangan Penyakit,cet 1.
Farid W. Husain,dkk

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.