Sukmiati Nurul Islamiah WordPress.com site

Sejarah Sumedang (2)

KEPRABUAN SUMEDANG LARANG

Sejak awal berdirinya Kerajaan Sumedang Larang(-+1500),senantiasa dipimpin oleh seorang raja secara turun temurun dengan gelar prabu.Namun,memasuki akhir abad ke-16 kemunculan Kesultanan Mataram sebagai kerajaan Islam terbesar di pulau Jawa berdampak besar pada perubahan di berbagai sektor kehidupan.Dalam bidang pemerintahanpun,sistem pemerintahan kerajaan Sumedang Larang yang mulanya keprabuan berubah menjadi kebupatian(kabupaten).Pangkat raja turun menjadi bupati/wedana.
Prabu Geusan Ulun adalah raja terakhir yang bergelar prabu dan dengan lengsernya Prabu Geusan Ulun(1601 M),maka berakhir pula masa keprabuan Sumedang Larang,karena setelah itu Sumedang Larang berada di bawah kekuasaan Mataram dengan pemimpinnya berpangkat bupati/wedana.

Prabu Adji Putih

Prabu Adji Putih(Resi Agung Cakrabuana)merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Sumedang Larang.Beliau mendirikan kerajaan Tembong Agung dengan pusat pemerintahan di kampung Muhara Desa Leuwihideung kecamatan Daramaraja.Kerajaan inilah yang kelak diganti namanya oleh Prabu Tadjimalela menjadi kerajaan Sudang Larang(Sumedang Larang).

Pernikahannya dengan Dewi Nawang Wulan melahirkan empat orang putera,yaitu:Bratakusumah/Tadjimalela,Sokawayana,Harisdarma dan Langlangbuana.
Pada masa pemerintahannya,beliau membangun sistem pemerintahan keprabuan yang melibatkan rakyat terutama dalam mengambil keputusan.

Prabu Adji Putih menyatukan dusun-dusun yang tersebar di daerah kaki gunung Mandalasakti(Cakrabuana),gunung Sanghyang,gunung Penuh(Sindangkasih),gunung Simpay,gunung Jagat,gunung Langlangbuana,gunung Nurmala,gunung Rengganis,gunung Geulis,gunung Tampomas,daerah-daerah yang tersebar di bagian utara gunung Pareugreug dan gunung Julang.

Pada saat terang bulan tahun Sangkakala Margajayj,Prabu Adji Putih menyerahkan kekuasaannya pada Bratakusumah(prabu Tadjimalela).Setelah itu menjadi resi dan menyebrangi daratan Teluk Persi menuju negeri Mekah.Beliau telah lama mendengar agama Islam yang disebarkan Nabi Muhammad saw.Selain itu beliau mendapat keterangan dari leluhurnya yaitu “hiji waktu jalan kaarifan molompong ti panto Mekah nepi ka pulo tutung,jalma antay-antayan nareangan kaarifan,tapi teu nyaho nu disebut arif”(Suatu saat jalan kearifan membujur dari pintu Mekah sampai ke pulau hitam,barisan manusia mencari kearifan,tetapi mereka tidak tahu apa yang disebut arif).Selanjutnya,beliau belajar agama kepada syekh Ali di Baghdad(Irak)mempelajari Al Qur’an dan memperdalam ilmu tauhid.Kemuian menunaikan ibadah haji dengan gelar Prabu Guru Haji Adji Putih atau Haji Purwa Sumedang(orang yang pertama kali naik haji di Sumedang Larang).

Sekembalinya di Sumedang,Prabu Adji Putih mendapat perintah dari gurunya untuk membangun mesjid jami dan tempat-tempat wudlu.Beliau mendirikannya di sekitar kaki gunung Nurmala,Darmaraja namun gagal karena ditentang penduduk setempat.Untuk mengenangnya,tempat itu diberi nama gunung Masigit.Meski gagal,tetapi semangatnya terus berpacu,sehingga dibuatlah tempat wudlu ditujuh tempat sumber mata air disebut ciwudlu tujuh muara.Tempat-tempat wudlu itu diberi nama “Cikahurifan” dibuat di kaki gunung Nurmala, “Cikajayaan” dibuat di Paniis,Cieunteung,Darmaraja, “Cikawedukan” dibuat di Cicanting, “Cikatimbulan” dibuat di kamgung Cibuah, “Cisundajaya” dibuat di Tanjung Siang(Subang), “Cimaraja” dibuat di Leuwihideung, dan “Cileumahtama” dibuat di Cipeueut.Sejak saat itulah prinsip-prinsip Islam melebur dalam keyakinan agama nenek moyang.Masyarakat lebih mengenal Gusti Alloh dan Pangeran daripada Sanghyang Widi, Sanghyang Niskala, Sanghyang Murbeng dan dewa-dewa mulai bergeser pada keyakinan adanya malaikat-malaikat disebut makhluk langit. Namun,kepercayaan terhadap roh-roh para leluhur marih dipertahankan,tetapi pada prakteknya sangat berbeda. Jadi, Prabu Adji Putihlah orang yang mula-mula mengenalkan agama Islam di Sumedang Larang dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri. Pada masa pemerintahannya agama Islam mulai dianut keluarga dan kerabat kerajaan.

Menjelang akhir hayatnya, Prabu Adji Putih menyempurnakan ilmunya di Cipeueut hingga meninggal dunia. Dimakamkan di Pajaratan Landeuh, Cipeueut Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja.

Prabu Tadjimalela

Telah dikemukakan di atas bahwasannya kekuasaan Sumedang Larang diserahkan Prabu Adji Putih kepada putera tertuanya, Bratakusumah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Prabu Tadjimalela.
Sebelum menjadi raja, Bratakusumah berguru selama bertahun-tahun kepada Resi Cakra Sakti yang bermukim di Cakrabuana. Suatu waktu, beliau diperintahkan bertapa di gunung Nurmala selama 21 hari dan 21 malam. Di sanalah melakukan perjalanan spiritual menembus alam gaib. Pada malam ke-7, segumpal sinar turun dari langit melingkar-lingkar di atas gunung menyerupai ulekan ujungnya sangat tajam, perlahan-lahan berubah menyerupai selendang, lalu menukik tajam ke petapaan gunung Nurmala.
Bratakusumah berkata kepada pengawalnya “Tadji Malela” (Tadji=tajam; Malela=selendang). Kuntawisesa dan Purwawisesa pengawal setia menyebut Bratakusumah dengan julukan Tadjimalela.
Malam ke-21, segumpal sinar merah penjelmaan Dewi Agni turun ke bumi, berputar-putar di atas gunung, menukik disekitar pertapaan. Gumpalan sinar menyembur ke setiap arah hingga petapaan terang-terangan. Bratakusumah berkata kepada pengawalnya “Insun Medangan Larang Tapa” (Aku melihat cahaya terang benderang di petapaan yaitu tempat yang syarat dengan tantangan dan pantrangan).

Hari ke-21 Bratakusumah dipanggil oleh ayahnya, kemudian pada saat terang bulan dinobatkan menjadi Pemangku Kerajaan Tembong Agung dengan gelar Prabu Tadjimalela. Menikah dengan Kencana Wulung putri Adinata dari Permaisuri Sari Ningrum, selanjutnya mengganti nama kerajaan menjadi Sudang Larang/Sumedang Larang(dari kata insun medangan larang tapa). Di awal kekuasaannya mengangkat pejabat-pejabat kerajaan dari lingkungan keluarga. Kedudukan patih dijabat oleh pamannya sendiri yaitu Astajiwa dan sejumlah menterinya terdiri dari saudara-saudaranya. Sokawayana menjadi penghulu daerah sekitar Gunung Tampomas, Harisdarma menjadi penghulu daerah sekitar Gunung Haruman(Garut). Sedangkan Langlangbuana menjadi penghulu di daerah Lemah Putih kemudian menjadi pengabdi Kerajaan Galuh.
Pembagian tugas memperlihatkan sistem yang dibangun Prabu Tadjimalela adalah sistem monarkhi konstitusional. Pemerintahan yang paling rendah adalah dukuh(desa) dijabat oleh petinggi, kedudukannya sebagai pemimpin desa.

Pernikahannya dengan Kencana Wulung melahirkan 3 orang putera, yaitu Jayabrata, Atmabrata dan Mariajaya. Pada saat bulan gelap lengser keprabon dan menyerahkan kekuasaannya kepada Jayabrata(Lembu Agung)kemudian menjadi resi dengan gelar Resi Bratakusumah, Resì Darmawisesa, Resi Pancarbuana dan Resi Tungtangbuana. Dipenghujung usianya menyempurnakah ilmunya di daerah Paniis hingga meninggal dunia. Dimakamkan di Paniis Desa Cieunteung Kecamatan Darmaraja.

Prabu Lembu Agung

Pemangku kerajaan Sumedang Larang selanjutnya yaitu Jayabrata atau Prabu Lembu Agung. Sebenarnya, Prabu Tadjimalela kebingungan kepada siapa beliau hendak mewariskan tahta kerajaan, karena Jayabrata dan Atmabrata sama-sama mempunyai hak menerima tahta kerajaan. Sementara Jayabrata dipandang kurang cerdas, tidak memiliki bakat kepemimpinan, malah lebih suka mendalami ilmu ketauhidan. Sedangkan Atmabrata lebih suka mempelajari ilmu kepemimpinan dan sejarah.
Prabu Tadjimalela akhirnya memerintahkan keduanya agar bertapa di Gunung Sangkan Jaya selama 40 hari 40 malam dengan syarat membawa sarana ritual berupa kelapa muda(dewegan). Setelah selesai bertapa kelapa harus dibelah. Apabila kelapa itu kering atau tidak berair, berarti tidak memiliki hak menjadi raja, sebaliknya kelapa itu berair tandanya memiliki hak menjadi raja Sumedang Larang. Setelah mendapat nasehat, mereka menuju Gunung Sangkanjaya. Selesai bertapa masing-masing membelah kelapa oleh pedang kamkam pusaka kebesaran Prabu Guru Adji Putih. Kelapa milik Jayabrata tidak berair,sedangkan kelapa Atmabrata mengandung air. Menandakan Jayabrata tidak memiliki hak menjadi raja. Sementara Atmabrata tidak menerima kenyataa itu, karena saudara tua yang berhak menjadi raja, selain tidak menghendaki terjadinya perubahan pergantian raja.Apabila mengubah tradisi pergantian raja akan menimbulkan pertumpahan darah. Jayabrata berpandangan lain,yaitu menentang sabda raja adalah hukuman. Namun, akhirnya Prabu Tadjimalela melalui perundingan dengan keduanya memutuskan mau tidak mau, suka tidak suka Jayabrata harus menerima tahta kerajaan. Jayabratapun menerima keputusan ayahnya dengan ucapan Darma Ngarajaan(sekedar raja). Perkataan Jayabrata ini menjadi nama sebuah kota yang dikenal Darmaraja.
Pada saat gelap bulan, dinobatkanlah Jayabrata menjadi pemangku kerajaan Sumedang Larang dengan gelar Prabu Lembu Agung. Beliau menikah dengan Banon Pujasari putri Hidayat dari Sari Fatimah cucu Harisdarma.

Untuk mengatasi pengaruh politik yang timbul dari dalam maupun luar, beliau mengadakan penguatan integritas penduduk-penduduk perkotaan dan penduduk dusun-dusun yang tersebar di wilayah-wilayah Sumedang Larang. Golongan keturunan rada dan golongan resi merupakan bagian yang sangat berpengaruh di tengah-tengah kehidupan rakyatnya. Resi mempunyai kedudukan yang tinggi dalam keagamaan.

Prabu Lembu Agung banyak membangun sarana peribadatan dan mengembangkan kebudayaan.
Prabu Lembu Agung menyerahkan tahta kerajaan kepada Atmabrata(prabu Gajah Agung). Setelah itu menjadi resi dan menyebarkan agama di daerah sekitar Gunung Sanghyang, Rengganis, gunung Nurtmala dan berakhir di Mandala Kawikan(Karang Kawitan)hingga meninggal dunia,dimakamkan di Astanagede.

Prabu Gajah Agung

Setelah Prabu Lembu Agung lengser keprabon, kerajaan Sumedang Larang diteruskan oleh adiknya, Atmabrata yang lebih dikenal dengan nama Prabu Gajah Agung.DI awal kekuasaannya, Prabu Gajah Agung memindahkan keraton dari Leuwihideung ke daerah Cìgulìng,desa Pasangrahan kecamatan Sumedang Selatan.
Dari pernikahannya dengan Sariningrum, Prabu Gajah mempunyai 2 orang putera, yaitu Ratu Isteri Rajamantri yang menikah dengan prabu Silihwangì,tidak menjadi ratu karena diboyong suami ke Pakuan Pajajaran.Dan yang kedua yaitu Manggala Wirajaya/Jagabaya/Prabu Pagulingan. Setelah lengser keprabon menjadi resi dan kekuasaan Sumedang Larang diteruskan oleh puteranya,yaitu prabu Pagulingan.
Prabu Gajah Agung wafat dan dimakamkan di Cicanting desa Cisurat kecamatan Wado,sumber lain mengatakan di desa Sukamenak kecamatan Darmaraja.

Setelah Prabu Pagulingan, tahta kerajaan diteruskan oleh puteranya,yaitu Sunan Guling. Sunan Guling diganti oleh putranya bernama Sunan Tuakan yang wafat dan dimakamkan di Heubeul Isuk, desa Cinanggerang, kecamatan Sumedang Selatan. Ia diganti oleh puterinya bernama Nyi Mas Ratu Istri Patuakan yang menikah dengan Sunan Corenda(Sonda Sanjaya putera Jaka Puspa dari ìsteri Mayang Karuna atau cucu Prabu Jaya Deata Sribaduga Maharaja/ Prabu Siliwangi I).
Nyi Mas Ratu Istri Patuakan diganti oleh Nyi Mas Ratu Inten Dewata, yang setelah menjadi ratu Sumedang Larang memakai gelar Ratu Pucuk Umun. Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Santri dari Cirebon, seorang Pangeran ulama agama Islam. Pada saat inilah agama Islam berkembang pesat di wilayah Sumedang. Sementara kekuatan dan kekuasaan Pajajaran sudah sangat menurun dan tidak terasa di daerah serta tidak tampak lagi di Sumedang Larang yang terletak cukup jauh dari Pakuan Pajajaran. Dengn demikian kerajaan Sumedang Larang praktis merupakan kerajaan penuh, dan secara “de facto” Sumedang Larang adalah kerajaan yang merdeka.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: