Sukmiati Nurul Islamiah WordPress.com site

Sudah bukan rahasia umum lagi bagi kita, terutama para sesepuh ada beberapa malam yang sangat utama dan diistemawakan dari malam-malam lainnya pada bulan Islam, yakni malam lailatul qodar, malam nishfu sya’ban, malam idul fitri dan malam idul adha. Berkenaan dengan malam nishfu sya’ban, Kanjeng Nabi Muhammad saw bersabda (yang artinya wallohu a’lam):”Unggulnya bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan yang lain adalah seperti unggulnya aku dibanding nabi-nabi yang lain.” dan “Tiada lagi malam yang paling utama setelah lailatul qodar selain malam nishfu Sya’ban.”

Malam nishfu sya’ban atau malam pertengahan bulan Sya’ban (malam tanggal 15 Sya’ban) disebut-sebut sebagai malam pergantian buku amal, karena pada malam tersebut semua amal kita diangkat ke langit dan buku catatan amal kita diganti dengan yang baru, sebagaimana sabda Rasul saw (yang artinya wallohu a’lam):”Alloh swt mengangkat semua amal para hambaNYa pada bulan ini (maksudnya Sya’ban)”,maka hendaklah kita mengakhiri catatan amal kita dengan amal-amal saleh, seperti berpuasa, berdo’a, membaca al qur’an dan banyak berdzikir, karena memang pada malam ini tidak hanya diangkatnya amal, melainkan pula dibukakannya pintu rahmat dan dikabulkannya semua do’a, serta diampuninya segala dosa hamba yang tidak menyekutukanNYa (musyrik), kecuali mereka tukang sihir, dukun, orang yang bermusuhan, orang yang melanggengkan minum arak, orang yang melanggengkan zina, pemakan riba, menyakiti orang tua, pengadu domba dan orang yang memutuskan tali persaudaraan, maka sesungguhnya mereka tidak akan mendapat pengampunan sehingga mereka bertaubat dan meninggalkannya terlebih dahulu. Sebagaimana yang diterima dari Abu Huroiroh ra beliau berkata: “Berkata Rasul saw: “Jibril telah mendatangiku pada malam nishfu sya’ban, lalu dia berkata: “Hai Muhammad ini adalah malam dibukakannya pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat. Dirikanlah sholat, angkatkan kepala dan kedua tanganmu ke langit !” Aku berkata:”Hai Jibril, malam apa ini ?”Kemudian Jibril berkata:”Ini adalah malam dibukakannya tiga ratus pintu rahmat. Alloh akan mengampuni semua hamba yang tidak menyukutukanNYa pada sesuatu apapun, kecuali mereka tukang sihir, dukun, orang yang bermusuhan, orang yang melanggengkan minum arak, orang yang melanggengkan zina, pemakan riba, menyakiti orang tua, pengadu domba dan orang yang memutuskan tali persaudaraan, maka sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni mereka sehingga mereka bertaubat dan meninggalkannya
.” Kemudian Nabi saw keluar dan mendirikan sholat serta menangis dalam sujudnya seraya berkata: “AllooHumma innii a’uudzu bika min ‘iqoobika wasakhothika walaa uhshii tsanaa-a ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika falakal hamdu hattaa tardloo.”

Lantas amalan-amalan apa saja yang meski kita lakukan pada malam nishfu sya’ban itu? Sebagaimana dilansir dari Forum majelisrasulullah.org perihal amalan-amalan pada malam nishfu Sya’ban, Al Habib Munzir Al Musawa berkata bahwa disunahkan untuk memperbanyak sholat malam di malam nishfu sya’ban dan berpuasa keesokannya, sebagaimana hadits Rasul saw :”Bila sudah masuk malam nishfu sya’ban maka bangunlah dimalamnya (perbanyak sholat malam dan dzikir) dan berpuasalah disiang harinya, sungguh Alloh turun ke langit yang terendah berhadapan dengan bumi saat terbenamnya matahari dihari itu (turu ke langit yang terdekat dengan bumi = mendekatkan rahmatNYa kepada hambaNYa) dan berkata: Adakah yang beristighfar kuampuni dosanya, adakah yang ditimpa musibah (yang berdo’a) hingga kuangkat musibahnya, adakah yang meminta rizki akan kulimpahi rizki, adakah…dan adakah…(Rosul saw menjelaskan banyak kemuliaan malam itu dan Alloh swt menjawab do’a-do’a kita.”
Sumber:
– Tafsir Imam Qurtubi juz 16 hal 127
– Sunan Ibn Majah hadits no. 1388 walaupun ada pendapat bahwa riwayat ini tidak shahih, namun baik pula kita banyak bermunajat dimalam ini karena pengampunan Alloh tercurah dimalam ini, sebagaimana riwayat shahih di bawah ini:
dan Rasul bersabda bahwa malam nishfu sya’ban Alloh mengampuni semua hambaNYa, kecuali musyrik dan orang yang suka iri dan dengki/ pemfitnah.
(Shahih Ibn Hiban hadits no. 5667)
(Mawarid Dhamaan hadits no. 1980)
(Sunan Tirmidzi hadits no. 739).

Kemudian, selain itu disunahkan pula memperbanyak do’a, karena do’a dimalam nishfu sya’ban adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits-hadits berikut:
Sabda Rasulullah saw: “Alloh mengawasi dan memandang hamba-hambaNYa dimalam nishfu sya’ban, lalu mengampuni dosa-dosa mereka semuanya, kecuali musyrik dan orang yang pemarah pada sesama muslimin” (Shahih Ibn Hibban no. 5755)
Berkata Aisyah ra: di suatu malam aku kehilangan Rasul saw, dan kutemukan beliau sedang di pekuburan Baqi’, beliau mengangkat kepalanya ke arah langit, seraya bersabda: “Sungguh Alloh turun ke langit bumi dimalam nishfu sya’ban dan mengampuni dosa-dosa hambaNYa sebanyak lebih dari jumlah bulu anjin dan domba” (Musnad Imam Ahmad hadits no. 24825)
Berkata Imam Syafi’i rohimahulloh: “Do’a mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam Jum’at, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam nishfu sya’ban” (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal 319). Dengan fatwa ini maka kita memperbanyak do’a dimalam itu, jelas pula bahwa do’a tak bisa dilarang kapanpun dan dimanapun, bila mereka yang melarang do’a maka hendaknya mereka menunjukkan dalilnya. Bila mereka meminta riwayat cara berdo’a, maka alangkah bodohnya mereka tak memahami caranya do’a, karena caranya adalah meminta kepada Alloh, pelarangan akan hal ini merupakan perbuatan mungkar dan sesat, sebagaimana sabda Rosululloh saw: “Sungguh sebesar-besarnya dosa muslimin dengan muslim lainnya adalah pertanyaan yang membuat hal yang halal dilakukan menjadi haram, karena sebab pertanyaannya” (Shahih Muslim).

Adapun kebiasaan membaca surat Yaasin 3x secara bersama-sama maupun sendiri yang senantiasa diawali permintaan(do’a)/niat setiap sebelum membacanya, Al habib Munzir bekata itu merupakan saran ulama (yang boleh-boleh saja), haram seseorang mengingkarinya, kenapa dilarang? Apa dalilnya seseorang membaca surat Al Qur’an? Melarangnya adalah haram secara mutlak, sebagaimana Imam Masjid Quba yang selalu menyertakan surat Al Ikhlas bila ia menjadi imam, selalu ia membaca Al Ikhlas disetiap raka’atnya setelah surat Al Fatihah, ia membaca Al Fatihah, lalu Al Ikhlas, baru surat lainnya, demikian pada setiap sholatnya, bukankah ini kegiatan yang tak diajarkan oleh Rasul saw? bukankah ini menambah-nambahi bacaan dalam sholat? Maka makmumnya berdatangan pada Rasul saw seraya mengadukannya, maka Rasul saw memanggilnya dan bertanya mengapa ia berbuat demikian, dan orang itu menjawab innii uhibbuHaa (aku mencintainya), yaitu mencintai surat Al Ikhlas, hingga selalu menggandengkan Al Ikhlas dengan Al Fatihah dalam setiap rakaat dalam sholatnya. Apa jawaban Rasul saw? Apakah Rasul saw berkata: “Kenapa engkau buat syariah dan ajaran baru? Apakah ibadah sholat yang kuajarkan belum sempurna???” beliau tak mengatakan demikian, malah seraya berkata: hubbuka iyyaahaa adkholakal jannah (cintamu pada surat Al Ikhlas itulah yang akan membuatmu masuk surga). Hadits ini dua kali diriwayatkan dalam Shahih Bukhori dan Shahih Bukhori adalah kitab hadits yang terkuat dari seluruh kitab hadits lainnya untuk dijadikan dalil, maka jelaslah Rasul saw tak melarang berupa ide-ide baru yang datang dari iman, selama tidak merubah syariah yang telah ada, apalagi hal itu merupakan kebaikan, dan do’a nis
fu sya’ban adalah mulia, apa yang diminta? panjang umur dalam taat pada Alloh, diampuni dosa-dosa, diwafatkan dalam husnul khotimah, salahkah do’a seperti ini? Akankah perkumpulan seperti ini dibubarkan dan ditentang?

Demikianlah keutamaan malam nishfu sya’ban, sekalipun terdapat pula hadits dloif yang mendukungnya, namun beramal dengan hadits dloif adalah boleh, bukan dijadikan dalil hukum syariah, bukan dijadikan dalil hukum fardlu, hukum jinayat atau hukum syariah lainnya. Maka hendaklah kita menjauhi fahaman sekelompok orang yang membid’ah sesatkan amalan nishfu sya’ban, apalagi menyangkanya sebagai perayaan, karena nishfu sya’ban tak ada perayaan, siapa pula yang merayakannya? Ini hanyalah tuduhan kelompok yang dangkal pengetahuan dan berhati busuk. Ulama kita juga tidak mengajarkan sholat khusus nishfu sya’ban, sebagaimana yang sering dituduhkan sekelompok orang, karena memang hal itu adalah bid’ah mazmumah yang berdosa bagi siapa yang melakukannya.

Wallohu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: